Uncategorized
Tech3 KTM Rekrut Senna Agius untuk MotoGP 2027, Duet dengan Luca Marini
Tech3 KTM mulai membangun susunan pembalap untuk menghadapi MotoGP 2027 dengan merekrut talenta muda Australia, Senna Agius. Pembalap berusia 20 tahun tersebut akan menjadi tandem Luca Marini di kelas premier pada musim 2027.
Kehadiran Agius menjadi bagian dari persiapan Tech3 menghadapi era baru MotoGP, termasuk perubahan regulasi teknis yang akan mulai diterapkan pada 2027. Pada saat yang sama, Tech3 kini berada di bawah arahan Guenther Steiner, sosok yang sebelumnya dikenal sebagai prinsipal tim Formula 1 Haas.
Bagi Agius, kesempatan ini menjadi langkah besar dalam kariernya setelah menunjukkan perkembangan kompetitif sejak berkiprah di ajang Moto2.

Perjalanan Agius Menuju MotoGP
Senna Agius mulai membangun namanya di kategori balap motor kelas menengah. Pada 2022, pembalap Australia tersebut menjadi runner-up Moto2 Eropa sebelum berhasil merebut gelar juara pada musim 2023.
Performa tersebut membuka jalannya menuju kejuaraan dunia Moto2. Agius kemudian tampil di Moto2 pada 2024 dan mampu langsung mencatatkan podium pada musim debutnya.
Perkembangannya berlanjut hingga musim 2026. Agius menunjukkan performa kompetitif dan mampu bersaing di papan atas klasemen Moto2.

Konsistensi tersebut menjadi modal penting ketika Tech3 KTM memilihnya untuk mengisi salah satu kursi mereka di MotoGP 2027.
Satu Garasi dengan Luca Marini
Di Tech3 KTM, Agius akan menghadapi tantangan baru dengan berbagi garasi bersama Luca Marini.
Perpindahan dari Moto2 ke MotoGP tentu membawa perubahan besar, terutama dari sisi karakter motor, kecepatan, pengereman, elektronik, serta tuntutan fisik. Selain harus beradaptasi dengan motor KTM, Agius juga akan memasuki periode penting karena MotoGP 2027 akan menggunakan regulasi teknis baru.
Tech3 menilai karakter Agius sesuai dengan kebutuhan tim untuk menghadapi perubahan tersebut.
Guenther Steiner melihat kecepatan, kedewasaan, serta etos kerja sebagai sejumlah aspek yang membuat Agius dipilih untuk proyek MotoGP 2027.
Menjaga Kehadiran Pembalap Australia di Grid
Perekrutan Agius juga memiliki konteks menarik dari sisi representasi Australia di MotoGP.
Jack Miller, salah satu pembalap Australia yang masih berada di grid MotoGP, dijadwalkan beralih ke World Superbike Championship (WorldSBK). Di sisi lain, kehadiran Grand Prix Adelaide menjadi bagian dari perkembangan motorsport Australia di kalender internasional.
Dengan masuknya Agius ke MotoGP, Australia kembali memiliki talenta muda yang akan membawa nama negaranya di kelas premier.
Bagi Tech3 KTM, Agius juga merupakan investasi jangka panjang terhadap pembalap yang masih berada pada tahap awal kariernya.
Mimpi Masa Kecil Agius Jadi Kenyataan

Agius menyambut kesempatan tersebut sebagai perwujudan dari mimpi yang telah dibangun sejak kecil.
Pembalap Australia ini menyatakan dirinya bertekad bekerja keras bersama Tech3 untuk menghadapi babak baru dalam kariernya.
Masuk MotoGP pada usia 20 tahun membuat Agius menjadi salah satu pembalap muda yang akan menghadapi tantangan besar di era regulasi baru.
MotoGP 2027 akan menjadi ujian penting bagi kemampuan adaptasinya. Selain berhadapan dengan pembalap-pembalap berpengalaman, Agius harus memahami karakter motor MotoGP dan memaksimalkan setiap sesi untuk mempercepat proses adaptasi.
Dengan pengalaman podium dan persaingan papan atas di Moto2 sebagai modal, Senna Agius kini mendapatkan kesempatan untuk membuktikan kemampuannya di level tertinggi balap motor dunia.
Tech3 KTM pun memasuki musim 2027 dengan kombinasi pengalaman Luca Marini dan energi pembalap muda Senna Agius dalam menghadapi era baru MotoGP.
Motor
Kenapa Kopling Motor Terasa Berat? Ini 6 Penyebab yang Wajib Dicek
Bagi pengguna motor manual, kopling menjadi salah satu komponen yang paling sering digunakan. Tuas kopling berfungsi mengendalikan proses pemutusan dan penyambungan tenaga mesin ke transmisi sehingga perpindahan gigi dapat dilakukan dengan lebih mudah.
Namun, seiring bertambahnya usia dan jarak pemakaian motor, tarikan tuas kopling bisa berubah. Yang sebelumnya ringan dan halus, perlahan terasa lebih berat hingga membuat tangan cepat lelah, terutama ketika motor digunakan melewati kemacetan.
Menariknya, kopling motor terasa berat tidak selalu menandakan kampas kopling sudah habis. Ada beberapa bagian lain yang ikut menentukan seberapa ringan atau berat tuas kopling ketika ditarik.
1. Kabel Kopling Kotor atau Kekurangan Pelumas

Kabel menjadi salah satu bagian pertama yang layak diperiksa ketika tuas kopling mulai terasa berat.
Pada sistem kopling yang menggunakan kabel mekanis, kawat kabel bergerak maju-mundur di dalam selongsong setiap kali tuas ditarik. Jika bagian dalam selongsong kotor, kering, atau mulai mengalami korosi, gesekan akan meningkat.
Akibatnya, tenaga yang dibutuhkan untuk menarik tuas menjadi lebih besar. Gerakan tuas juga bisa terasa kurang halus dibandingkan kondisi normal.
Jika kabel masih dalam kondisi baik, perawatan dan pelumasan sesuai rekomendasi dapat membantu mengurangi gesekan. Namun, apabila kabel sudah berkarat, seratnya mulai rusak, atau gerakannya tersendat, penggantian kabel biasanya menjadi pilihan yang lebih tepat.
2. Setelan Kabel Kopling Tidak Sesuai

Setelan kabel juga berpengaruh terhadap karakter tuas.
Kabel yang terlalu tegang dapat mengubah free play atau jarak bebas tuas. Kondisi tersebut bisa membuat pengoperasian kopling terasa kurang nyaman dan berpotensi membuat mekanisme kopling tidak bekerja pada posisi yang seharusnya.
Sementara itu, kabel yang terlalu kendur juga bukan kondisi ideal karena gerakan tuas bisa menjadi terlalu panjang dan kopling berpotensi tidak terlepas secara optimal.
Karena setiap motor memiliki spesifikasi berbeda, jarak bebas tuas sebaiknya mengikuti rekomendasi pabrikan. Jangan hanya mengandalkan feeling ketika melakukan penyetelan.
3. Mekanisme Pengungkit Kopling Mulai Seret
Selain kabel, terdapat mekanisme pengungkit yang meneruskan gerakan tuas menuju mekanisme kopling di mesin.
Bagian ini juga dapat menjadi sumber masalah. Kotoran, kurang pelumasan, atau keausan pada titik gerak pengungkit dapat membuat mekanismenya menjadi lebih berat.
Kasus seperti ini cukup mudah terlewat karena pengendara biasanya langsung mencurigai kabel atau kampas kopling ketika tuas mulai terasa berat.
Padahal, jika kabel sudah diperiksa tetapi tarikan masih berat, mekanisme pengungkit juga perlu dicek.
4. Karakter Per Kopling Terlalu Keras
Komponen internal kopling juga dapat memengaruhi berat atau ringannya tuas.
Per kopling memberikan tekanan pada mekanisme kopling. Ketika digunakan per dengan karakter lebih keras, gaya yang dibutuhkan untuk mengoperasikan kopling juga dapat meningkat.
Kondisi ini dapat terjadi pada motor yang menggunakan komponen aftermarket dengan spesifikasi berbeda dari bawaan pabrik.
Pada aplikasi tertentu, per yang lebih keras memang dapat dipilih untuk kebutuhan performa tertentu. Namun, konsekuensinya adalah beban pada tuas kopling dapat meningkat sehingga tangan pengendara lebih cepat lelah ketika digunakan dalam lalu lintas padat.
5. Kabel Kopling Sudah Mengalami Keausan
Kabel kopling memiliki masa pakai. Seiring waktu, kawat di dalamnya dapat mengalami keausan, sementara bagian dalam selongsong juga dapat kehilangan permukaan yang sebelumnya halus.
Dalam kondisi lebih parah, serat kabel bahkan bisa mulai rusak atau terurai.
Salah satu tanda yang bisa dirasakan adalah tarikan tuas yang tidak konsisten. Kadang terasa ringan, kemudian menjadi berat atau seperti tersendat pada titik tertentu.

Jika sudah muncul gejala tersebut, jangan hanya mengandalkan pelumas. Kabel yang telah mengalami kerusakan sebaiknya diganti agar pengoperasian kopling kembali optimal.
6. Modifikasi Sistem Kopling
Modifikasi juga dapat mengubah karakter tarikan kopling.
Penggunaan tuas aftermarket, perubahan rasio mekanisme pengungkit, pemasangan per kopling dengan tingkat kekerasan berbeda, hingga komponen aftermarket lainnya dapat membuat beban pada tuas berubah.
Karena itu, apabila kopling mulai terasa berat setelah motor mendapatkan modifikasi, komponen yang baru dipasang menjadi salah satu bagian yang perlu diperiksa.
Tidak semua modifikasi membuat kopling lebih berat, tetapi perubahan pada geometri atau beban sistem dapat memengaruhi effort yang dibutuhkan pengendara untuk menarik tuas.
Jangan Langsung Ganti Kampas Kopling
Ketika kopling terasa berat, bukan berarti kampas kopling otomatis harus diganti.
Kampas kopling yang aus lebih sering dikaitkan dengan gejala seperti kopling selip, putaran mesin naik tetapi akselerasi tidak sebanding, atau kemampuan meneruskan tenaga yang menurun.
Sementara itu, masalah berat pada tuas lebih berkaitan dengan sistem pengoperasian kopling, mulai dari kabel, setelan, mekanisme pengungkit, hingga karakter per kopling.
Karena itu, pemeriksaan sebaiknya dilakukan secara bertahap. Mulai dari bagian yang paling mudah diperiksa seperti free play dan kondisi kabel, kemudian lanjut ke mekanisme pengungkit dan komponen internal apabila diperlukan.
Kopling Ringan Bikin Berkendara Lebih Nyaman
Kopling yang bekerja normal seharusnya dapat dioperasikan dengan gerakan yang halus dan konsisten sesuai karakter motor.
Jika tarikan semakin berat, jangan menunggu sampai tangan terasa pegal setiap kali berkendara. Selain mengurangi kenyamanan, kabel atau mekanisme yang mulai seret juga berpotensi berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
Jadi, ketika kopling motor terasa berat, jangan langsung menyimpulkan kampas kopling habis. Kabel, setelan, mekanisme pengungkit, per kopling, dan komponen hasil modifikasi juga perlu masuk daftar pemeriksaan.
Perawatan sederhana dan pemeriksaan berkala bisa membantu menjaga sistem kopling tetap responsif, sehingga perpindahan gigi tetap nyaman baik untuk penggunaan harian maupun perjalanan jarak jauh.
Motor
Modifikasi CVT Skutik Awas Asal Kerok, Bisa Bikin Roller Cepat Peang
Modifikasi Continuously Variable Transmission (CVT) atau yang akrab disebut sektor “kirian” menjadi salah satu cara yang banyak dilakukan pemilik skutik untuk mengubah karakter performa motor. Ubahan pada CVT biasanya ditujukan untuk mendapatkan respons akselerasi yang lebih cepat, tarikan bawah yang lebih responsif, atau karakter perpindahan rasio yang sesuai dengan kebutuhan berkendara.
Sejumlah komponen pun kerap menjadi sasaran modifikasi, mulai dari roller, pulley, hingga jalur pergerakan roller. Beberapa pemilik bahkan melakukan pembubutan pulley atau pengerokan jalur roller untuk mengubah rentang kerja pulley.
Namun, modifikasi pada CVT tidak bisa dilakukan sembarangan. Jika pengerjaan tidak presisi, justru bisa mengganggu mekanisme kerja transmisi dan mempercepat kerusakan komponen. Salah satu masalah yang cukup sering muncul adalah roller CVT yang cepat berubah bentuk atau biasa disebut peang.
Jalur Roller Kasar Bisa Mempercepat Roller Peang

Product Expert Digioto, Liongky, menjelaskan bahwa salah satu penyebab roller cepat peang dapat berasal dari jalur roller pada pulley yang sudah dimodifikasi secara kurang tepat.
Pada beberapa kasus, jalur roller dikerok untuk mengubah pergerakan pulley. Masalah muncul ketika hasil pengerokan tidak rapi dan meninggalkan permukaan yang kasar atau tidak presisi.
“Pulley sudah dibubut, jalur roller dikerok. Makanya kadang ketemu customer yang jelasin, kenapa roller-nya peang terus. Pas dicek ternyata jalurnya sudah dikerok,” jelas Liongky.
Secara mekanis, roller bekerja dengan bergerak mengikuti jalur pada pulley ketika putaran mesin berubah. Pergerakan tersebut membantu mengatur posisi pulley depan dan pada akhirnya mengubah rasio CVT.
Ketika permukaan jalur tidak lagi halus dan memiliki bagian yang kasar, gesekan antara roller dan jalur dapat meningkat. Roller pun menerima beban dan kontak yang tidak ideal sehingga lebih berisiko mengalami keausan maupun perubahan bentuk.
Jangan Sembarangan Menghilangkan Stopper
Selain permukaan jalur roller, bagian lain yang perlu diperhatikan adalah stopper atau pembatas pada ujung jalur roller.
Stopper berfungsi sebagai batas pergerakan roller pada mekanisme pulley. Dalam beberapa modifikasi, bagian tersebut sengaja dihilangkan dengan tujuan membuat pergerakan pulley menjadi lebih jauh sehingga pulley dapat membuka lebih lebar.
Namun, langkah tersebut juga memiliki konsekuensi apabila dilakukan tanpa perhitungan yang tepat.
“Di jalur roller itu di ujungnya ada stopper, kadang itu dihilangkan. Mungkin tujuannya menghilangkan limit pergerakan pulley. Tapi saat dihilangkan, pulley gerak terlalu jauh, maka roller keluar sedikit dari jalur dan bergesek ke tutup rumahnya, makanya peang,” terang Liongky.
Ketika roller bergerak melewati batas kerja yang seharusnya, posisinya dapat menjadi tidak ideal terhadap jalur pulley. Kontak dengan komponen di sekitarnya berpotensi menyebabkan gesekan abnormal dan mempercepat kerusakan roller.

Artinya, menghilangkan stopper bukan sekadar membuat jalur pergerakan menjadi lebih panjang. Perubahan tersebut juga harus mempertimbangkan posisi roller, sudut jalur, clearance antar-komponen, serta batas kerja keseluruhan sistem CVT.
Modifikasi CVT Harus Memperhitungkan Satu Sistem
CVT bekerja sebagai satu kesatuan. Perubahan pada satu komponen dapat memengaruhi cara kerja komponen lainnya.
Misalnya, perubahan pada jalur roller akan memengaruhi pergerakan pulley depan. Perubahan posisi pulley kemudian berhubungan dengan perubahan rasio transmisi dan karakter perpindahan belt.
Karena itu, modifikasi CVT sebaiknya tidak hanya mengejar perubahan tarikan berdasarkan feeling. Kondisi roller, jalur pulley, stopper, rumah roller, belt, hingga komponen CVT lainnya perlu diperhitungkan agar tetap bekerja dalam rentang yang sesuai.
Modifikasi yang presisi dapat ditujukan untuk mengubah karakter motor, tetapi pengerjaan yang terlalu ekstrem atau tidak rapi justru berpotensi mengorbankan durabilitas komponen.
Umur Roller Bisa Lebih Pendek
Dalam kondisi standar dan penggunaan normal, roller CVT umumnya memiliki masa pakai yang cukup panjang. Kisaran pemeriksaan atau penggantian dapat berada di sekitar 10.000–15.000 kilometer, meski interval aktual tetap bergantung pada tipe motor, kondisi komponen, gaya berkendara, beban, dan kondisi CVT.
Jika jalur roller sudah dimodifikasi secara ekstrem dan permukaannya tidak presisi, umur pakai roller bisa menjadi jauh lebih pendek.
Roller yang sudah peang juga tidak lagi bekerja optimal mengikuti jalur pulley. Bentuk roller yang berubah dapat mengganggu pergerakannya sehingga kerja pulley menjadi tidak mulus.
Gejalanya bisa terasa dari tarikan motor yang mulai tersendat, respons akselerasi yang tidak konsisten, hingga munculnya suara atau getaran tidak normal dari area CVT.
Pada akhirnya, modifikasi CVT bukan sekadar soal membuat tarikan motor lebih responsif. Setiap perubahan pada sektor “kirian” harus mempertimbangkan mekanisme kerja CVT secara keseluruhan.
Jadi, kalau ingin melakukan modifikasi pulley atau jalur roller, jangan hanya mengejar angka performa. Presisi pengerjaan dan kesesuaian antar-komponen tetap menjadi kunci agar peningkatan karakter motor tidak dibayar dengan umur komponen yang lebih pendek.
Motor
Lampu Check Engine Yamaha NMAX Tiba-Tiba Menyala? Bisa Jadi Karena Hal Ini
Lampu indikator check engine tiba-tiba menyala di panel instrumen Yamaha All New NMAX tentu bisa membuat pemilik motor langsung waswas. Apalagi jika sebelumnya motor masih terasa normal dan tidak menunjukkan gejala gangguan pada mesin.
Namun, dalam kondisi tertentu, munculnya indikator tersebut tidak selalu berarti terdapat kerusakan berat pada mesin. Salah satu kasus yang dapat terjadi berkaitan dengan pembacaan sensor posisi poros engkol atau Crankshaft Position Sensor (CPS).
Pada unit tertentu, kondisi ketika motor dimatikan secara mendadak dengan menurunkan standar samping disebut dapat membuat sistem membaca kondisi putaran crankshaft sebagai sesuatu yang tidak normal. Akibatnya, ECU dapat menyimpan kode kesalahan dan menyalakan indikator check engine.
Standar Samping Bisa Memicu Pembacaan Abnormal

Salah satu kondisi yang dikaitkan dengan kasus ini adalah ketika standar samping diturunkan secara tiba-tiba saat motor sedang bergerak dengan kecepatan rendah atau ketika hendak berhenti.
Ketika kondisi tersebut terjadi, putaran mesin dapat berhenti secara mendadak. Sistem elektronik kemudian mendeteksi perubahan posisi dan putaran crankshaft melalui sensor CPS.
Pada unit tertentu, pembacaan tersebut dapat dianggap sebagai kondisi abnormal dan memicu penyimpanan kode kesalahan pada ECU.
Salah satu kode yang dapat muncul adalah P0335, yang berkaitan dengan rangkaian atau sinyal Crankshaft Position Sensor.
Namun, munculnya kode P0335 tidak otomatis berarti sensor CPS mengalami kerusakan secara fisik. Diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebab sebenarnya.
Apa Fungsi Sensor CPS?
CPS merupakan salah satu sensor penting dalam sistem kontrol mesin modern.
Sensor ini membaca posisi dan putaran crankshaft, kemudian mengirimkan informasi tersebut ke ECU. Data tersebut digunakan ECU sebagai salah satu parameter untuk menentukan pengaturan kerja mesin.
Karena berkaitan dengan posisi crankshaft, gangguan pada sinyal CPS dapat membuat ECU mendeteksi adanya ketidaksesuaian.
Itulah sebabnya ketika sistem menyimpan kode yang berkaitan dengan CPS, pemeriksaan tidak sebaiknya dilakukan hanya dengan mengganti sensor secara langsung. Teknisi perlu memastikan terlebih dahulu apakah masalah berasal dari sensor, rangkaian kelistrikan, konektor, atau kondisi pembacaan yang terjadi sebelumnya.
Kenapa Check Engine Bisa Menyala Padahal Motor Normal?
Ini bagian yang sering membuat pemilik NMAX bingung.
Pada kasus tertentu, indikator check engine dapat menyala sementara motor masih bisa dihidupkan dan digunakan seperti biasa. Hal tersebut dapat terjadi karena ECU telah menyimpan kode kesalahan meskipun kondisi gangguan tidak lagi berlangsung.
Dengan kata lain, lampu indikator merupakan tanda bahwa sistem elektronik mendeteksi atau merekam kondisi yang dianggap tidak normal. Bukan berarti setiap kali indikator menyala, mesin langsung mengalami kerusakan mekanis.
Meski begitu, indikator check engine tetap tidak boleh diabaikan, terutama apabila lampu kembali menyala setelah dilakukan reset atau muncul bersamaan dengan gejala seperti mesin sulit dihidupkan, performa menurun, atau putaran mesin tidak stabil.
Bisa Dicek Menggunakan Yamaha Diagnostic Tool
All New NMAX sudah menggunakan sistem diagnostik elektronik yang memungkinkan teknisi melakukan pemeriksaan terhadap sistem kendaraan.
Yamaha Diagnostic Tool atau YDT digunakan untuk membantu teknisi membaca informasi malfungsi yang tersimpan di sistem elektronik sepeda motor.
Jika lampu check engine muncul, teknisi dapat melakukan pemeriksaan menggunakan perangkat tersebut untuk mengetahui kode kesalahan yang tersimpan.
Dalam kasus yang hanya berkaitan dengan error tersimpan, kode dapat dihapus setelah penyebabnya dipastikan. Namun, apabila kode kembali muncul, pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk mencari sumber masalah.
Jangan Langsung Ganti CPS
Ketika muncul kode yang berhubungan dengan Crankshaft Position Sensor, bukan berarti langkah pertama harus langsung mengganti CPS.
Teknisi perlu melakukan diagnosis terlebih dahulu. Pemeriksaan dapat mencakup sensor, konektor, kabel, serta kondisi sistem yang berkaitan dengan pembacaan posisi crankshaft.
Hal ini penting karena kode kesalahan pada sistem elektronik merupakan petunjuk untuk proses diagnosis, bukan selalu diagnosis akhir.
Dengan pemeriksaan menggunakan perangkat diagnostik yang sesuai, penyebab masalah dapat diketahui dengan lebih tepat dan pemilik motor tidak perlu mengganti komponen yang sebenarnya masih berfungsi normal.
Kapan NMAX Harus Dibawa ke Bengkel?
Jika lampu check engine hanya muncul setelah kondisi tertentu dan motor tetap bekerja normal, pemilik tidak perlu langsung panik. Namun, pemeriksaan tetap disarankan untuk memastikan kode yang tersimpan di ECU.
Terlebih jika indikator muncul berulang kali setelah dilakukan reset. Kondisi tersebut sebaiknya tidak dianggap sebagai error biasa karena bisa menunjukkan adanya gangguan yang masih terjadi.
Jika motor masih dalam masa garansi, pemeriksaan di bengkel resmi Yamaha menjadi pilihan yang tepat. Sampaikan kepada teknisi kapan indikator mulai menyala dan kondisi motor saat kejadian, misalnya ketika standar samping diturunkan atau setelah motor berhenti secara mendadak.
Informasi tersebut dapat membantu teknisi mempersempit proses diagnosis.
Kesimpulan
Lampu check engine Yamaha NMAX yang tiba-tiba menyala tidak selalu berarti mesin mengalami kerusakan berat. Pada kondisi tertentu, sistem dapat menyimpan kode kesalahan akibat pembacaan sensor CPS yang dianggap abnormal.
Kode P0335 yang berkaitan dengan Crankshaft Position Sensor juga tidak otomatis berarti CPS harus diganti. Pemeriksaan menggunakan Yamaha Diagnostic Tool diperlukan untuk mengetahui apakah kode tersebut hanya tersimpan atau terdapat masalah yang masih berlangsung.
Jadi, jika check engine NMAX menyala, jangan langsung panik dan jangan pula mengabaikannya. Lakukan diagnosis terlebih dahulu agar penyebabnya bisa dipastikan dan penanganan dilakukan berdasarkan kondisi sebenarnya.
-
Motor Balap2 years agoWawan Wello Resmi Comeback! Siap Tarung di LFN HP969 & Yamaha Cup Race! 🔥
-
Motor3 years ago
Polytron Memperkenalkan 11 Fitur Baru pada Motor Listrik Fox-R
-
Mobil2 years agoPORSCHE RWB GARAPAN AKIRA NAKAI: MODIFIKASI YANG MENJADI INVESTASI SENI MEWAH
-
Motor1 year agoHonda Wave 125 Terbaru Resmi Meluncur di Thailand: Bebek Legendaris, Iritnya Bikin Dompet Senyum Lebar .
-
Motor2 years agoSuzuki DR-Z4 Series 2025: Andalan Baru di Segmen Motor Trail & Supermoto!
-
Motor2 years ago“Yamaha Luncurkan Motor Turing Ganteng di Indonesia! Ini Dia Harganya yang Bikin Melongo!”
-
Mobil2 years agoJetour T2 Siap Tantang Chery J6 di Pasar SUV Off-road!
-
Event3 years ago
Kia EV9 GT-Line Unjuk Gigi di GIIAS Bandung, Harganya Dekati Rp 2 Miliar OTR
