Connect with us

Mobil

Yuki Tsunoda Tampil Impresif di GP Belanda, Berharap Kembali Dilirik Tim F1

Published

on

Yuki Tsunoda kembali mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya di Formula 1 setelah secara mendadak dipanggil Racing Bulls untuk menggantikan Liam Lawson pada Grand Prix Belanda di Zandvoort.

Kesempatan tersebut datang ketika Tsunoda sedang menikmati liburan di Yunani. Dalam waktu singkat, pembalap Jepang itu harus kembali mempersiapkan diri untuk menghadapi akhir pekan balap F1 setelah cukup lama tidak tampil di kompetisi utama.

Tsunoda terakhir kali membalap penuh di F1 pada musim sebelumnya sebelum kehilangan kursinya di Red Bull. Meski demikian, ia tetap menjaga kemampuan balap melalui simulator dan program yang dijalankan bersama Red Bull.

Menariknya, minimnya persiapan tidak membuat Tsunoda tampil buruk. Ia mampu mencatat posisi ke-12 pada sesi kualifikasi dan kemudian mengakhiri balapan GP Belanda di posisi ke-11.

Hasil tersebut memang belum cukup untuk membawa pulang poin, tetapi performanya menjadi perhatian karena Tsunoda mampu bertahan dekat dengan persaingan zona poin hingga lap-lap akhir.

Kembali Balapan Setelah Lama Absen

Bagi Tsunoda, tampil di Zandvoort bukan pekerjaan mudah. Ia harus kembali beradaptasi dengan mobil F1, prosedur tim, pengaturan tombol di setir, hingga karakteristik ban hanya dalam waktu singkat.

Selain itu, karakter degradasi ban di Zandvoort juga menjadi tantangan tersendiri. Tsunoda mengakui bahwa dirinya membutuhkan proses adaptasi untuk memahami bagaimana mobil dan ban bekerja sepanjang balapan.

Meski menghadapi berbagai kendala, pembalap Jepang tersebut merasa performanya justru berkembang lebih cepat dari perkiraannya.

Dalam rentang sekitar delapan bulan sejak balapan terakhirnya di Abu Dhabi, Tsunoda mengaku hanya menjalani beberapa balapan. Namun, program simulator Red Bull membantunya tetap menjaga feeling dan ketajaman mengemudi.

Hasilnya terlihat di Zandvoort. Tsunoda mampu bertarung dengan pembalap yang berada di sekitar posisi delapan dan sembilan hingga beberapa lap terakhir.

Finis ke-11 Jadi Modal Penting

Walaupun gagal mencetak poin, finis ke-11 memiliki arti penting bagi Tsunoda.

Pasalnya, ia mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan langsung di hadapan para pengambil keputusan di paddock F1. Terlebih, performa tersebut diraih dalam kondisi persiapan yang sangat terbatas.

Tsunoda pun berharap penampilannya di GP Belanda dapat membuka kembali peluang untuk mendapatkan kursi reguler di Formula 1.

Pembalap asal Jepang itu merasa masih memiliki kemampuan untuk bersaing di level tertinggi dan percaya dirinya telah memberikan gambaran mengenai potensi yang dimilikinya.

“Saya tahu apa yang mampu saya lakukan,” ujar Tsunoda.

Ia juga menilai kesempatan tampil di Zandvoort jauh lebih berharga dibandingkan tidak mendapatkan kesempatan sama sekali untuk membuktikan kemampuannya dengan regulasi dan mobil F1 generasi saat ini.

Menunggu Panggilan Tim F1

Masa depan Tsunoda di F1 kini kembali menjadi perhatian. Dengan beberapa tim yang masih dapat melakukan perubahan susunan pembalap untuk musim mendatang, penampilan di Zandvoort bisa menjadi salah satu modal dalam negosiasi.

Tsunoda sendiri menyerahkan keputusan tersebut kepada manajernya dan tim-tim yang masih mencari pembalap.

Namun, ketika ditanya apakah peluangnya kembali mendapatkan kursi reguler F1 menjadi lebih besar setelah GP Belanda, Tsunoda memberikan jawaban yang cukup santai.

“Tolong hubungi saya!”

Jawaban tersebut memang disampaikan dengan nada bercanda, tetapi pesan di baliknya cukup jelas: Tsunoda masih ingin berada di grid Formula 1.

Kini tinggal menunggu apakah penampilannya di Zandvoort mampu mengubah pandangan tim-tim F1 terhadap masa depannya.

Electric Vehicle

Suzuki e-Sky Resmi Meluncur, Mobil Listrik Mungil dengan Fitur Tak Terduga

Published

on

By

Suzuki mulai memperluas langkahnya di segmen kendaraan listrik melalui Suzuki e-Sky, mobil listrik mungil yang diperkenalkan untuk pasar global, termasuk Inggris Raya.

Mengusung konsep kei car khas Jepang, e-Sky hadir dengan dimensi kompak dan desain bodi yang cenderung mengotak. Karakter tersebut mengingatkan pada Suzuki WagonR sekaligus menjadi strategi untuk memaksimalkan ruang kabin meski memiliki ukuran eksterior yang ringkas.

Di Inggris, Suzuki e-Sky dipasarkan dengan harga mulai di bawah £20.000 atau sekitar Rp400 jutaan. Dengan banderol tersebut, mobil listrik mungil ini berada di kelas harga yang berdekatan dengan Suzuki Swift.

Desain Kompak untuk Mobilitas Perkotaan

Secara visual, Suzuki e-Sky versi produksi masih mempertahankan garis besar desain dari mobil konsep yang sebelumnya diperkenalkan di Tokyo Motor Show.

Namun, terdapat beberapa penyesuaian untuk kebutuhan produksi massal. Salah satunya terlihat pada sistem pencahayaan yang kini menggunakan lampu LED dengan desain lebih sederhana dibandingkan versi konsep.

Ukurannya juga menjadi salah satu daya tarik utama.

Suzuki e-Sky memiliki panjang 3.395 mm, lebar 1.475 mm, tinggi 1.625 mm, serta jarak sumbu roda 2.460 mm.

Dengan bobot sekitar 1.030 kg dan radius putar hanya 4,4 meter, e-Sky dirancang untuk bermanuver dengan mudah di lingkungan perkotaan.

Karakter tersebut membuatnya cocok untuk menghadapi lalu lintas padat, jalan sempit, hingga kebutuhan parkir di area perkotaan.

Motor Listrik 63 BHP, Jarak Tempuh 310 Km

Masuk ke sektor performa, Suzuki e-Sky menggunakan motor listrik penggerak roda depan.

Motor tersebut menghasilkan tenaga hingga 63 bhp.

Untuk urusan daya jelajah, Suzuki mengklaim e-Sky mampu menempuh jarak hingga 310 km dalam kondisi baterai penuh.

Angka tersebut membuat e-Sky cukup menarik untuk kebutuhan mobilitas harian. Dengan karakter sebagai kendaraan perkotaan, jarak tempuh tersebut memberikan fleksibilitas bagi pengguna untuk melakukan aktivitas tanpa harus terlalu sering melakukan pengisian daya.

Namun, daya tarik e-Sky tidak berhenti pada efisiensi energi.

Suzuki justru menyematkan sejumlah teknologi yang cukup menarik untuk sebuah mobil listrik berukuran mungil.

Punya V2L untuk Menyalurkan Listrik

Salah satu fitur yang cukup mencuri perhatian adalah Vehicle-to-Load atau V2L.

Teknologi ini memungkinkan energi yang tersimpan di baterai kendaraan digunakan untuk mengoperasikan perangkat listrik dari luar mobil.

Artinya, baterai e-Sky tidak hanya berfungsi sebagai sumber tenaga untuk menggerakkan kendaraan, tetapi juga bisa dimanfaatkan sebagai sumber listrik portabel untuk kebutuhan tertentu.

Fitur seperti ini membuat e-Sky memiliki fleksibilitas lebih ketika digunakan untuk aktivitas luar ruangan maupun kebutuhan sehari-hari.

Ada Heat Pump dan Easy Drive Pedal

Suzuki juga membekali e-Sky dengan Direct Heat Pump System.

Teknologi tersebut dirancang untuk membantu mengoptimalkan penggunaan energi baterai ketika sistem pemanas maupun pendingin kabin digunakan.

Hal ini penting pada kendaraan listrik karena penggunaan sistem HVAC dapat berpengaruh terhadap konsumsi energi dan jarak tempuh.

Selain itu, tersedia Easy Drive Pedal yang dirancang untuk memudahkan pengemudi ketika menghadapi kondisi lalu lintas stop-and-go.

Fitur tersebut membuat karakter berkendara e-Sky semakin sesuai dengan kebutuhan mobilitas perkotaan yang sering diwarnai akselerasi dan deselerasi berulang.

Kabin Mungil, Fitur Tetap Modern

Meski memiliki bodi kompak, Suzuki tidak membuat interior e-Sky terasa minim teknologi.

Di bagian dashboard terdapat layar infotainment touchscreen berukuran 10,1 inci yang menjadi pusat berbagai fungsi hiburan dan informasi.

Panel instrumen digital juga tersedia untuk menampilkan berbagai informasi berkendara.

Salah satu fitur menarik lainnya adalah sistem navigasi pintar yang dapat membantu pengemudi merencanakan perjalanan berdasarkan sisa daya baterai.

Sistem tersebut juga dapat mempertimbangkan lokasi stasiun pengisian kendaraan listrik atau SPKLU dalam menentukan rute.

Dengan demikian, pengemudi bisa mendapatkan gambaran mengenai kebutuhan pengisian daya sebelum maupun selama perjalanan.

Kei Car Listrik untuk Era Baru

Kehadiran Suzuki e-Sky menunjukkan bagaimana konsep kei car mulai beradaptasi dengan era elektrifikasi.

Dimensinya tetap kecil dan praktis, tetapi teknologi yang dibawanya sudah jauh lebih modern.

Motor listrik 63 bhp, jarak tempuh hingga 310 km, V2L, heat pump, Easy Drive Pedal, hingga sistem navigasi berbasis kondisi baterai membuat e-Sky tidak sekadar menawarkan efisiensi.

Di Inggris, harga mulai di bawah £20.000 atau sekitar Rp400 jutaan juga membuatnya menjadi salah satu pilihan menarik di segmen kendaraan listrik perkotaan.

Dengan kombinasi ukuran kompak, efisiensi, serta fitur yang cukup lengkap, Suzuki e-Sky menjadi salah satu langkah penting Suzuki dalam memasuki era mobilitas listrik.

Pertanyaannya sekarang, apakah mobil listrik mungil seperti e-Sky juga punya peluang menarik perhatian konsumen Indonesia?

Continue Reading

HYBRID

Lamborghini Temerario Tricolore Resmi Meluncur, 920 PS dengan Sentuhan Italia

Published

on

By

Lamborghini kembali menghidupkan identitas Tricolore melalui model terbaru mereka, Lamborghini Temerario Tricolore. Supercar edisi khusus ini diperkenalkan dalam ajang Monterey Car Week dan menjadi penerus semangat Tricolore yang sebelumnya hadir pada Gallardo LP550-2 Tricolore pada 2011.

Lebih dari sekadar permainan warna, Temerario Tricolore dirancang sebagai bentuk perayaan terhadap desain, teknologi, keahlian, serta identitas Italia yang menjadi bagian penting dari karakter Lamborghini.

Pengembangan model ini melibatkan Lamborghini Centro Stile bersama divisi personalisasi Ad Personam, sehingga setiap detail eksterior maupun interior mendapatkan sentuhan khusus.

Livery Tricolore dengan Kombinasi Warna Eksklusif

Dari sektor eksterior, Lamborghini memberikan kombinasi warna yang langsung memperlihatkan karakter khas Italia.

Bagian bawah bodi menggunakan warna Blu Marinus Shiny, sedangkan area atas menggunakan Bianco Monocerus. Kombinasi tersebut kemudian dipadukan dengan aksen Glossy Nero Noctis pada bagian spion, pelek, dan penutup mesin.

Karakter agresif Temerario semakin kuat dengan kaliper rem berwarna merah.

Yang paling mencuri perhatian adalah grafis hijau, putih, dan merah pada kap mesin yang merepresentasikan warna bendera Italia.

Dengan komposisi tersebut, Lamborghini tidak hanya menghadirkan tampilan eksklusif, tetapi juga memberikan identitas visual yang langsung menghubungkan Temerario dengan negara asalnya.

Kabin Dibuat Lebih Personal

Masuk ke interior, pendekatan personalisasi Ad Personam kembali terlihat.

Jok menggunakan material Nero Ade yang dipadukan dengan jahitan merah Rosso Alala. Permukaan jok juga mendapatkan motif heksagonal yang menjadi salah satu elemen desain khas Lamborghini.

Detail Tricolore semakin terasa melalui bordir tulisan “Tricolore” pada panel pintu.

Sementara pada trim bagian belakang terdapat siluet kendaraan yang semakin menegaskan bahwa mobil ini bukan Temerario standar.

Setiap detail dirancang untuk memberikan pengalaman yang lebih eksklusif sekaligus mempertahankan atmosfer sporty khas Lamborghini.

V8 Hybrid 920 PS

Meski tampil dengan pendekatan heritage, sektor performa Lamborghini Temerario Tricolore justru membawa teknologi modern.

Di balik bodinya terdapat mesin 4.0 liter twin-turbo V8 plug-in hybrid yang dipadukan dengan tiga motor listrik.

Kombinasi sistem elektrifikasi tersebut menghasilkan tenaga maksimum hingga 920 PS.

Tenaga tersebut disalurkan melalui transmisi dual-clutch 8-percepatan, menghasilkan karakter performa yang tidak hanya brutal tetapi juga responsif.

Akselerasi 0-100 km/jam hanya membutuhkan 2,7 detik.

Sementara kecepatan maksimumnya mencapai 340 km/jam.

Yang menarik, mesin V8 tersebut mampu berputar hingga 10.000 rpm, memberikan karakter putaran mesin yang menjadi salah satu daya tarik utama Temerario sebagai supercar performa tinggi.

Tricolore Kembali Setelah 15 Tahun

Nama Tricolore memiliki sejarah tersendiri bagi Lamborghini.

Terakhir kali Lamborghini menggunakan identitas tersebut pada model Gallardo LP550-2 Tricolore pada 2011. Kini, setelah 15 tahun, nama tersebut kembali melalui Temerario.

Menurut Lamborghini, Temerario Tricolore merupakan interpretasi baru mengenai bagaimana warna nasional Italia dapat diterapkan pada supercar modern.

Namun kali ini, unsur tradisional tersebut tidak berdiri sendiri.

Lamborghini menggabungkannya dengan teknologi plug-in hybrid, performa V8 twin-turbo, serta tingkat personalisasi tinggi dari Ad Personam.

Hasilnya adalah sebuah supercar yang mencoba menjembatani identitas masa lalu dengan teknologi masa depan.

Harga Belum Diumumkan

Lamborghini belum mengungkap harga resmi Temerario Tricolore.

Sebagai pembanding, Temerario standar memiliki harga sekitar US$358.000 atau lebih dari Rp5,5 miliar berdasarkan asumsi nilai tukar yang digunakan, belum termasuk pajak dan biaya impor.

Dengan tingkat personalisasi khusus serta statusnya sebagai model edisi spesial, harga Temerario Tricolore diperkirakan akan berada di atas versi standar.

Bagi kolektor, nilai mobil ini bukan hanya berasal dari performa 920 PS atau kecepatan 340 km/jam.

Ada faktor sejarah, desain, eksklusivitas, dan identitas Tricolore yang membuatnya berpotensi menjadi salah satu koleksi menarik Lamborghini.

Lamborghini Temerario Tricolore pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa cepat mobil ini melaju.

Mobil ini menjadi cara Lamborghini membawa DNA Italia, tradisi Tricolore, dan teknologi hybrid ke dalam satu paket supercar modern.

Continue Reading

Event

Indonesian Custom Show 2026 Sukses Gaet Lebih dari 30 Ribu Pengunjung

Published

on

By

Gelaran Indonesian Custom Show (ICS) 2026 resmi berakhir dengan catatan positif. Selama tiga hari penyelenggaraan, pameran custom culture yang berlangsung di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, berhasil menarik lebih dari 30.000 pengunjung.

Mengusung tema “Like Air”, ICS 2026 tidak hanya menjadi ruang pamer bagi mobil dan motor custom. Acara ini juga mempertemukan builder, komunitas, pelaku industri kreatif, penggemar otomotif, hingga pengunjung dari mancanegara dalam satu ekosistem custom culture.

Berbagai aktivitas turut menjadi daya tarik utama, mulai dari ratusan karya mobil dan motor custom, atraksi otomotif, marketplace, pertunjukan musik, hingga kolaborasi lintas industri.

“Like Air” Gambarkan Kebebasan Custom Culture

Tema “Like Air” atau “Seperti Udara” menjadi representasi semangat ICS 2026 dalam melihat perkembangan kultur custom di Indonesia.

Show&Shine Director ICS, B. Kunto Wibisono, menyebut tema tersebut menggambarkan kebebasan dalam berkarya tanpa batas sekaligus energi custom culture yang terus berkembang.

Menurutnya, kehadiran para builder lokal menunjukkan bahwa industri custom Indonesia semakin dinamis dan mampu menghasilkan karya dengan standar yang semakin tinggi.

Antusiasme terhadap ICS 2026 juga tidak hanya datang dari dalam negeri. Salah satu pengunjung asal Swedia bahkan kembali menghadiri Indonesian Custom Show untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.

Kehadiran penggemar custom dari luar Indonesia tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa perkembangan custom culture Tanah Air mulai mendapatkan perhatian yang lebih luas di kancah internasional.

Drift Show hingga Edukasi Keselamatan

Selain memamerkan karya custom, ICS 2026 juga menghadirkan berbagai atraksi otomotif.

Salah satu yang mencuri perhatian adalah aksi drift dari pembalap nasional Rifat Sungkar. Tidak hanya menunjukkan kemampuan mengendalikan mobil dalam kondisi oversteer, Rifat juga memberikan edukasi mengenai aspek keselamatan dalam olahraga rally.

ICS 2026 turut menghadirkan drift show menggunakan kendaraan rakitan Prorock Engineering. Menariknya, mobil yang digunakan untuk atraksi tersebut diklaim dibangun secara khusus hanya dalam waktu sekitar dua minggu sebelum tampil di ajang ICS 2026.

Suasana pameran kemudian semakin meriah dengan kehadiran sejumlah musisi seperti Denny Caknan, Kotak, dan For Revenge yang tampil di hadapan ribuan pengunjung.

Honda City dan Kawasaki W650 Jadi Custom Terbaik

Salah satu bagian yang paling ditunggu dalam Indonesian Custom Show adalah penghargaan bagi builder dengan karya terbaik.

Gelar The Coolest Custom Car diraih Dawank melalui Honda City Sedan 2008 garapan Diora Autospace.

Mobil tersebut tampil dengan konsep modifikasi ekstrem yang mengambil inspirasi dari karakter Lightning McQueen dalam film Cars. Proses pembangunannya membutuhkan waktu sekitar satu tahun, terutama karena pengerjaan bagian kaki-kaki yang cukup kompleks.

Honda City tersebut juga berhasil membawa pulang dua penghargaan tambahan, yakni The Perfect Hottest Asian Car dan The Perfect Asian Car.

Sementara itu, gelar The Coolest Custom Bike diraih Ubai dan Bima melalui Kawasaki W650 2003 garapan Garage Nyambi Custom x Vampire Garage.

Motor tersebut juga memborong empat penghargaan lain, yaitu The Perfect Japan Chopper & Bobber, The Perfect Chopper & Bobber, The Perfect Custom Paint Bike, serta The Perfect Asian Upper 250cc Bike.

Menurut Ubai, proses pembangunan Kawasaki W650 tersebut memakan waktu sekitar enam bulan. Menariknya, biaya modifikasinya disebut tidak mencapai Rp150 juta.

Lucky Draw hingga Freedom Run

Keseruan Indonesian Custom Show 2026 tidak berhenti pada pameran dan kompetisi custom.

Program Lucky Draw juga menjadi bagian dari rangkaian acara. Leonardus Harpa Pradana dan Romi Agus Nugraha berhasil menjadi pemenang dan membawa pulang hadiah berupa Mitsubishi Lancer SOHC MT 1994 serta Binter Merzy 1984 Chopper.

Sementara itu, program Freedom Run yang melibatkan Gisel dan gengnya juga menjadi bagian dari kegiatan ICS 2026. Renovil Dramestika keluar sebagai pemenang dan berhak membawa pulang satu unit Vespa Matic.

Dengan jumlah pengunjung yang menembus lebih dari 30.000 orang, Indonesian Custom Show 2026 menjadi salah satu bukti bahwa custom culture di Indonesia terus berkembang.

Bukan hanya soal modifikasi kendaraan, ICS telah berkembang menjadi ruang pertemuan antara builder, komunitas, industri kreatif, lifestyle, dan masyarakat umum.

Kesuksesan ICS 2026 “Like Air” sekaligus menjadi momentum bagi perkembangan industri custom Indonesia untuk terus menghasilkan karya yang lebih berani, kreatif, dan memiliki karakter.

Sampai bertemu di Indonesian Custom Show 2027.

Continue Reading

Trending