Sirkuit Mandalika kembali jadi saksi pertarungan penuh tensi di kelas AP250, di mana adrenalin seakan meledak di setiap tikungan. Hasil akhir menempatkan Muhammad Murobbil Vitoni alias Robby Sakera (YAMAHA LFN HP969 INDONESIA RACING TEAM) sebagai pemenang setelah rival utamanya, Fadillag Arbi (ASTRA HONDA RACING TEAM), harus menerima penalti akibat melanggar batas lintasan.
Sejak lampu start padam, Robby tampil agresif dengan langsung memimpin. Namun, atmosfer panas balapan terasa di Lap 2 ketika Arbi menusuk ke depan dan mencuri posisi teratas. Dari belakang, Candra H (YAMAHA RACING INDONESIA) menempel ketat di P3, memberikan tekanan konstan kepada duo terdepan.
Puncak ketegangan pecah di Lap 3. Krittapat Keankum (YAMAHA THAILAND RACING TEAM) mencatat waktu tercepat 1 menit 47.840 detik, memperkeruh persaingan di barisan depan. Tak berhenti di situ, Irfan Ardiansyah (MAEZTRO NWN SCK HONDA RACING TEAM) ikut merangsek, membuat perebutan posisi kian panas. Bahkan, Md Izam Ikmal (VICTOR RACING TEAM) sempat mengejutkan dengan naik ke P2, meski Arbi segera merebut kembali kendali balapan.
Drama baru benar-benar terjadi di garis finish. Penalti yang dijatuhkan kepada Arbi membuat Robby resmi mengunci kemenangan penting di Mandalika. Suporter pun bergemuruh, merayakan kemenangan penuh emosi dari rider asal Indonesia ini.
Usai balapan, Robby mengungkapkan rasa haru dan semangatnya:
“Balapan ini sangat sulit, tekanan dari para pesaing begitu besar. Tapi saya tetap fokus, berusaha tenang, dan memberi segalanya di lintasan. Terima kasih untuk tim saya yang sudah menyiapkan motor terbaik, serta para pendukung yang selalu memberikan motivasi. Kemenangan ini jadi dorongan besar untuk seri-seri berikutnya.”
Dengan hasil ini, Robby Sakera bukan hanya membawa pulang kemenangan, tapi juga mengirim pesan kuat: dirinya siap menjadi salah satu penantang serius di musim ARRC tahun ini.
Kabar kurang menggembirakan datang dari kubu Gresini Racing jelang dimulainya musim MotoGP 2026. Pembalap muda andalan mereka, Fermin Aldeguer, dilaporkan mengalami kecelakaan saat menjalani sesi latihan, menjadikannya pembalap pertama yang harus menepi akibat cedera di awal musim ini.
Insiden tersebut terjadi pada Kamis di Sirkuit Aspar, Valencia, ketika Aldeguer tengah berlatih menggunakan motor superbike versi jalan raya. Pembalap asal Murcia itu terjatuh cukup keras, hingga harus mendapatkan penanganan medis serius. Media lokal Plaza Deportiva menjadi pihak pertama yang mengungkap kabar ini, sebelum akhirnya dikonfirmasi langsung oleh Gresini Racing melalui akun resmi mereka di media sosial.
Dalam pernyataan resminya, tim asal Italia tersebut mengonfirmasi bahwa Aldeguer mengalami patah tulang paha kiri dan telah dijadwalkan menjalani operasi di Barcelona. “@Aldeguer54 mengalami patah tulang pada batang femur kiri saat latihan di Valencia. Ia akan menjalani operasi besok di Barcelona. Informasi lanjutan akan kami sampaikan,” tulis Gresini Racing.
Pembalap berusia 20 tahun itu segera dipindahkan ke Barcelona untuk menjalani prosedur medis lanjutan. Hingga saat ini, belum ada kepastian terkait durasi pemulihan maupun peluang Aldeguer untuk hadir dalam agenda presentasi tim dan mengikuti tes pramusim MotoGP 2026.
Kondisi pascaoperasi akan menjadi faktor krusial bagi Gresini Racing dan Ducati dalam menyusun strategi awal musim. Cedera ini tentu menjadi ujian besar, baik bagi Aldeguer yang tengah bersiap menapaki musim penting dalam kariernya, maupun bagi tim yang berharap banyak pada talenta mudanya tersebut.
Musim belum dimulai, namun tantangan sudah lebih dulu datang. Semua mata kini tertuju pada proses pemulihan Aldeguer dan bagaimana Gresini Racing menyikapi situasi krusial ini.
Kecepatan motor MotoGP yang terasa “secepat kilat” bukan hanya soal skill pembalap atau kecanggihan mesin. Di balik performa ekstrem itu, ada peran krusial dari bahan bakar khusus yang diatur ketat oleh regulasi kejuaraan.
Sebagai ajang balap motor paling prestisius di dunia, MotoGP menerapkan sejumlah aturan teknis yang wajib dipatuhi semua tim, termasuk soal pemilihan Bahan Bakar Minyak (BBM). Berbeda jauh dari motor harian, bahan bakar yang digunakan motor MotoGP memiliki Research Octane Number (RON) sangat tinggi, demi menopang mesin berkompresi ekstrem.
Saat ini, MotoGP juga sedang berada dalam fase transisi menuju bahan bakar ramah lingkungan. Sejak musim 2024, setiap pabrikan diwajibkan menggunakan sustainable fuel dengan kandungan minimal 40 persen. Angka tersebut bukan akhir, karena regulasi baru pada MotoGP 2027 menargetkan penggunaan 100 persen bahan bakar berkelanjutan.
Soal performa, bahan bakar MotoGP memiliki RON mencapai 102, jauh di atas BBM komersial. Nilai oktan tinggi ini memungkinkan pembakaran lebih stabil pada mesin berputaran tinggi, sekaligus memaksimalkan tenaga tanpa risiko detonasi.
Menariknya, MotoGP tidak membatasi merek bahan bakar. Setiap pabrikan bebas memilih vendor sesuai kebutuhan teknis mereka. Ducati, misalnya, telah lama menjalin kerja sama dengan Shell, sementara banyak tim lain mempercayakan pasokan bahan bakarnya pada Elf dari TotalEnergies. Berbeda dengan isu ban yang kerap menuai kontroversi, bahan bakar nyaris tak pernah menjadi sumber masalah besar di lintasan.
Namun, bukan hanya kualitas BBM yang diatur. Jumlah bahan bakar juga dibatasi ketat. Untuk balapan utama, setiap motor hanya diperbolehkan membawa 22 liter, sedangkan untuk sprint race dibatasi 12 liter. Perbedaan ini memaksa tim dan pembalap melakukan penyesuaian besar terhadap setelan motor dan gaya balap.
Tak jarang, tim menggunakan tangki khusus saat sprint race untuk meminimalkan perbedaan karakter motor. Meski begitu, beberapa pembalap masih kesulitan beradaptasi. Francesco “Pecco” Bagnaia, misalnya, pernah mengeluhkan performanya yang kurang kompetitif di sprint akibat perbedaan tangki dan distribusi bahan bakar.
Saat sesi latihan dan kualifikasi, situasinya berbeda. Motor biasanya diisi bahan bakar seminimal mungkin agar bobot lebih ringan dan performa maksimal bisa dicapai saat time attack.
Menariknya lagi, regulasi juga mengatur suhu bahan bakar. Tim diperbolehkan menurunkan suhu BBM hingga 15 derajat Celcius di bawah suhu lingkungan, agar volume bahan bakar lebih optimal saat balapan dimulai dalam kondisi suhu lintasan yang lebih panas. Namun pengawasan ketat diberlakukan, menyusul upaya beberapa tim di masa lalu yang mencoba mengakali pendinginan bahan bakar demi keuntungan volume ekstra.
Semua detail ini membuktikan bahwa di MotoGP, kecepatan bukan sekadar gas diputar penuh, melainkan hasil dari perpaduan presisi teknis, regulasi ketat, dan inovasi tanpa henti.
Marc Marquez menilai musim MotoGP 2026 akan menjadi salah satu fase paling menentukan dalam sejarah kejuaraan dunia balap motor, bukan hanya karena persaingan di lintasan, tetapi juga dampak besar dari perubahan regulasi yang segera datang. Di tengah dominasi Ducati yang masih kuat, Marquez secara terbuka menyebut Aprilia sebagai ancaman serius yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.
Menurut Marquez, performa Aprilia dalam dua musim terakhir menunjukkan grafik yang terus menanjak. Pada musim 2025, pabrikan asal Noale itu sukses menempati posisi runner-up klasemen konstruktor di bawah Ducati dengan raihan 418 poin. Marco Bezzecchi juga tampil konsisten hingga finis peringkat ketiga klasemen pembalap dengan 353 poin, sementara Jorge Martin—juara dunia 2024—harus lebih sering absen akibat cedera.
Marquez menilai kekuatan Aprilia akan semakin terasa pada 2026, musim yang disebutnya sebagai tahun transisi paling rumit dalam kariernya. Pasalnya, MotoGP akan memasuki era perubahan regulasi besar pada 2027, mulai dari penggunaan mesin berkapasitas lebih kecil, pembatasan aerodinamika, hingga penghapusan perangkat ride height. Situasi ini membuat peta kekuatan tim menjadi sulit diprediksi.
“Pada 2026, semuanya seperti berjudi,” ungkap Marquez. “Tak ada jaminan siapa yang akan punya motor terbaik setelah regulasi berubah total. Pembalap harus benar-benar mengikuti insting.”
Kondisi tersebut menjadikan bursa pembalap 2026 sebagai yang paling kompleks sepanjang karier sang delapan kali juara dunia. Bagi Marquez, keputusan bertahan atau melangkah ke proyek baru bukan sekadar soal kontrak, melainkan soal keyakinan untuk tetap bisa menang.
Marquez pun menegaskan bahwa motivasinya hanya satu: perebutan gelar juara dunia. Jika ia merasa tak lagi berada dalam posisi untuk bersaing di level tertinggi, maka ia tak segan untuk mengakhiri kariernya. MotoGP 2026, bagi Marquez, bukan sekadar musim balap—melainkan ujian insting, ambisi, dan masa depan.