Connect with us

Motor Balap

Racetech Sixty Racing Resmi Umumkan Duet Rider untuk ARRC 2025, Siap Tarung di Kelas UB150

Published

on

Tim balap asal Indonesia, Racetech Sixty Racing, akhirnya resmi merilis formasi pebalap mereka untuk ajang Asia Road Racing Championship (ARRC) 2025. Masih konsisten tampil di kelas Underbone 150 (UB150), tim ini kembali menurunkan dua pembalap andalan untuk bersaing di level Asia.

Musim ini, Racetech kembali mempercayakan jok motornya kepada sang juara dua kali kelas UB150, Wahyu Aji Trilaksana, yang telah menunjukkan performa luar biasa di musim-musim sebelumnya. Menemani Wahyu, hadir wajah baru yang siap memberi kejutan, yaitu Dimas Juliatmoko, pembalap muda berbakat asal Kalimantan Timur.

Sebagai informasi, pada ARRC 2024 lalu, Racetech diperkuat oleh Wahyu Aji dan Adytya Fauzi. Namun, karena Adytya kini bergabung dengan JPNW Racing Team, posisi tersebut resmi digantikan oleh Dimas Juliatmoko yang sebelumnya membela One For All Racing Team.

Dengan kombinasi pengalaman Wahyu Aji dan semangat muda Dimas Juliatmoko, Racetech Sixty Racing menargetkan gelar juara umum UB150 di musim ARRC 2025. Di bawah arahan Ko Leon dan kru solid tim, duet ini diyakini mampu tampil kompetitif dan mengharumkan nama Indonesia di kancah balap Asia.

Moto GP

Rahasia Akselerasi Brutal MotoGP: BBM Beroktan Tinggi Jadi Kunci

Published

on

By

Kecepatan motor MotoGP yang terasa “secepat kilat” bukan hanya soal skill pembalap atau kecanggihan mesin. Di balik performa ekstrem itu, ada peran krusial dari bahan bakar khusus yang diatur ketat oleh regulasi kejuaraan.

Sebagai ajang balap motor paling prestisius di dunia, MotoGP menerapkan sejumlah aturan teknis yang wajib dipatuhi semua tim, termasuk soal pemilihan Bahan Bakar Minyak (BBM). Berbeda jauh dari motor harian, bahan bakar yang digunakan motor MotoGP memiliki Research Octane Number (RON) sangat tinggi, demi menopang mesin berkompresi ekstrem.

Saat ini, MotoGP juga sedang berada dalam fase transisi menuju bahan bakar ramah lingkungan. Sejak musim 2024, setiap pabrikan diwajibkan menggunakan sustainable fuel dengan kandungan minimal 40 persen. Angka tersebut bukan akhir, karena regulasi baru pada MotoGP 2027 menargetkan penggunaan 100 persen bahan bakar berkelanjutan.

Soal performa, bahan bakar MotoGP memiliki RON mencapai 102, jauh di atas BBM komersial. Nilai oktan tinggi ini memungkinkan pembakaran lebih stabil pada mesin berputaran tinggi, sekaligus memaksimalkan tenaga tanpa risiko detonasi.

Menariknya, MotoGP tidak membatasi merek bahan bakar. Setiap pabrikan bebas memilih vendor sesuai kebutuhan teknis mereka. Ducati, misalnya, telah lama menjalin kerja sama dengan Shell, sementara banyak tim lain mempercayakan pasokan bahan bakarnya pada Elf dari TotalEnergies. Berbeda dengan isu ban yang kerap menuai kontroversi, bahan bakar nyaris tak pernah menjadi sumber masalah besar di lintasan.

Namun, bukan hanya kualitas BBM yang diatur. Jumlah bahan bakar juga dibatasi ketat. Untuk balapan utama, setiap motor hanya diperbolehkan membawa 22 liter, sedangkan untuk sprint race dibatasi 12 liter. Perbedaan ini memaksa tim dan pembalap melakukan penyesuaian besar terhadap setelan motor dan gaya balap.

Tak jarang, tim menggunakan tangki khusus saat sprint race untuk meminimalkan perbedaan karakter motor. Meski begitu, beberapa pembalap masih kesulitan beradaptasi. Francesco “Pecco” Bagnaia, misalnya, pernah mengeluhkan performanya yang kurang kompetitif di sprint akibat perbedaan tangki dan distribusi bahan bakar.

Saat sesi latihan dan kualifikasi, situasinya berbeda. Motor biasanya diisi bahan bakar seminimal mungkin agar bobot lebih ringan dan performa maksimal bisa dicapai saat time attack.

Menariknya lagi, regulasi juga mengatur suhu bahan bakar. Tim diperbolehkan menurunkan suhu BBM hingga 15 derajat Celcius di bawah suhu lingkungan, agar volume bahan bakar lebih optimal saat balapan dimulai dalam kondisi suhu lintasan yang lebih panas. Namun pengawasan ketat diberlakukan, menyusul upaya beberapa tim di masa lalu yang mencoba mengakali pendinginan bahan bakar demi keuntungan volume ekstra.

Semua detail ini membuktikan bahwa di MotoGP, kecepatan bukan sekadar gas diputar penuh, melainkan hasil dari perpaduan presisi teknis, regulasi ketat, dan inovasi tanpa henti.

Continue Reading

Moto GP

Marc Marquez: MotoGP 2026 Jadi Titik Kritis, Aprilia Bisa Jadi Kuda Hitam

Published

on

By

Marc Marquez menilai musim MotoGP 2026 akan menjadi salah satu fase paling menentukan dalam sejarah kejuaraan dunia balap motor, bukan hanya karena persaingan di lintasan, tetapi juga dampak besar dari perubahan regulasi yang segera datang. Di tengah dominasi Ducati yang masih kuat, Marquez secara terbuka menyebut Aprilia sebagai ancaman serius yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.

Menurut Marquez, performa Aprilia dalam dua musim terakhir menunjukkan grafik yang terus menanjak. Pada musim 2025, pabrikan asal Noale itu sukses menempati posisi runner-up klasemen konstruktor di bawah Ducati dengan raihan 418 poin. Marco Bezzecchi juga tampil konsisten hingga finis peringkat ketiga klasemen pembalap dengan 353 poin, sementara Jorge Martin—juara dunia 2024—harus lebih sering absen akibat cedera.

Marquez menilai kekuatan Aprilia akan semakin terasa pada 2026, musim yang disebutnya sebagai tahun transisi paling rumit dalam kariernya. Pasalnya, MotoGP akan memasuki era perubahan regulasi besar pada 2027, mulai dari penggunaan mesin berkapasitas lebih kecil, pembatasan aerodinamika, hingga penghapusan perangkat ride height. Situasi ini membuat peta kekuatan tim menjadi sulit diprediksi.

“Pada 2026, semuanya seperti berjudi,” ungkap Marquez. “Tak ada jaminan siapa yang akan punya motor terbaik setelah regulasi berubah total. Pembalap harus benar-benar mengikuti insting.”

Kondisi tersebut menjadikan bursa pembalap 2026 sebagai yang paling kompleks sepanjang karier sang delapan kali juara dunia. Bagi Marquez, keputusan bertahan atau melangkah ke proyek baru bukan sekadar soal kontrak, melainkan soal keyakinan untuk tetap bisa menang.

Marquez pun menegaskan bahwa motivasinya hanya satu: perebutan gelar juara dunia. Jika ia merasa tak lagi berada dalam posisi untuk bersaing di level tertinggi, maka ia tak segan untuk mengakhiri kariernya. MotoGP 2026, bagi Marquez, bukan sekadar musim balap—melainkan ujian insting, ambisi, dan masa depan.

Continue Reading

Motor Balap

Dari Barisan Terakhir ke Podium 2! Perjuangan Gila Sinar Jaya Property di Bebek Lokal 125 STD

Published

on

By

Tim Sinar Jaya Property sukses mencuri perhatian pada gelaran balap terbaru setelah finis di posisi runner-up kelas Bebek Lokal Buleleng 125 Standar, meski harus memulai balapan dari grid paling belakang.

Hasil ini menjadi pencapaian manis bagi tim, mengingat motor yang digunakan masih dalam tahap riset dan pengembangan awal. Sejak awal, target realistis pun dipasang—cukup menembus lima besar. Namun siapa sangka, kerja keras di lintasan justru berbuah podium kedua.

“Kami cukup puas dengan hasil hari ini. Start dari belakang, tapi masih diberi rezeki bisa finis P2,” ungkap perwakilan tim usai balapan.

Sepanjang balapan, kondisi trek terbilang bersahabat. Cuaca mendukung tanpa hujan, sehingga race berjalan dalam kondisi ideal. Meski begitu, tantangan terbesar datang dari proses mencari setelan motor yang tepat, mengingat karakter sirkuit yang berbeda dengan lintasan sebelumnya.

Pada race ini, tim Sinar Jaya Property masih memfokuskan pengaturan di sektor rasio gear dan setelan karburator. Namun bukan berarti balapan berjalan tanpa hambatan. Masalah teknis sempat muncul saat motor berada di top speed, di mana respons mesin dua tak mengalami sedikit gangguan.

Momen paling menegangkan terjadi tepat di awal lomba. Start dari posisi paling belakang membuat tekanan berlipat, namun perlahan pembalap mampu merangsek ke depan hingga akhirnya mengamankan posisi kedua di garis finis.

Dari hasil ini, tim mengaku mendapat banyak pelajaran berharga. Riset dinilai masih harus terus dilakukan agar performa motor semakin stabil dan kompetitif di berbagai kondisi lintasan.

Menatap seri berikutnya, target Sinar Jaya Property sudah jelas: memperbaiki catatan waktu dan tampil lebih kuat dibanding event sebelumnya.

“Kami ingin time-nya bisa lebih kecil dari balapan kemarin. Evaluasi dan riset tetap jadi kunci,” tutup tim dengan optimistis.

Continue Reading

Trending