Connect with us

Motor

Kenapa Suzuki Saluto Belum Masuk Indonesia? Ini Jawaban Resminya dari Suzuki!

Published

on

Keinginan warganet untuk melihat Suzuki Saluto 125 meluncur di Indonesia semakin besar. Namun, harapan itu kembali harus tertahan. PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) akhirnya buka suara dan menjelaskan alasan mengapa skutik retro tersebut belum bisa dipasarkan di Tanah Air.

Menurut Teuku Agha, 2W Sales & Marketing Department Head PT SIS, masalah utama bukan pada minat Suzuki… melainkan harga yang selangit dari negara asalnya, Taiwan.

“Kami sebenarnya ingin membawa Saluto ke Indonesia. Tapi harganya di Taiwan sudah tinggi,” ungkapnya.

Di pasar Taiwan, Suzuki Saluto dibanderol sekitar Rp 45 jutaan. Bila unit tersebut masuk ke Indonesia melalui skema impor, harganya bisa tembus Rp 80 jutaan.
SIS menilai angka itu terlalu tinggi untuk kelas skutik 125 cc, sehingga tidak masuk akal untuk dipasarkan di segmen yang sensitif harga.

Skutik retro ini sebenarnya baru saja mendapat penyegaran di Taiwan. Desainnya tetap membawa DNA klasik modern—depannya mirip Vespa, belakangnya ala Lambretta—dikemas dalam ukuran yang kompak dan elegan.

Pada sisi dapur pacu, Suzuki Saluto dibekali mesin SOHC 124 cc satu silinder yang menghasilkan 9,2 dk dan 10 Nm. Meski bukan yang paling bertenaga, motor ini unggul di sisi efisiensi.

Yang membuat banyak pecinta skutik penasaran adalah konsumsi BBM-nya: 62,2 km/liter!
Catatan ini bahkan lebih irit dibandingkan skutik 110 cc populer seperti Honda BeAT atau Scoopy.

Tak hanya itu, Suzuki juga membenamkan sejumlah fitur kekinian, seperti:

  • Pencahayaan full LED
  • Panel instrumen digital LCD
  • Soket charger
  • Smart key anti-maling
  • Bagasi lega yang muat helm

Dengan paket lengkap seperti itu, wajar bila banyak biker Indonesia jatuh hati. Namun untuk saat ini, Suzuki menegaskan bahwa harga masih menjadi batu sandungan terbesar.

Netizen pun hanya bisa berharap: semoga Suzuki menemukan solusi agar Saluto tak hanya jadi “motor impian dari jauh”, tetapi benar-benar bisa melaju di jalanan Indonesia.

Motor

Kawasaki Versys 650 2026 Tampil Segar, Warna Baru Pertegas Aura Petualang

Published

on

By

Memasuki awal tahun, Kawasaki kembali menyegarkan lini moge penjelajahnya lewat kehadiran Versys 650 model tahun 2026. Bukan melalui ubahan teknis, melainkan sentuhan visual yang membuat tampilannya terasa lebih dewasa dan eksklusif.

Pada versi terbaru ini, Versys 650 hanya ditawarkan dalam satu balutan warna anyar, Metallic Deep Blue berpadu Metallic Spark Black. Perpaduan warna tersebut menghadirkan kesan elegan namun tetap agresif, memperkuat karakter motor touring yang siap diajak menjelajah jarak jauh maupun digunakan untuk mobilitas harian.

Penyegaran ini turut diikuti penyesuaian harga. Versys 650 2026 kini dibanderol Rp 245,7 juta OTR Jakarta, mengalami kenaikan sekitar Rp 3,8 juta dibanding model sebelumnya. Kenaikan tersebut dinilai sebagai konsekuensi pembaruan model sekaligus penyesuaian biaya produksi.


Persaingan Panas di Segmen Adventure Menengah

Di kelas moge penjelajah menengah, Versys 650 berhadapan dengan sejumlah rival kuat. Dari kubu Honda, Honda CB500X menawarkan karakter adventure ringan dengan harga Rp 206,3 juta OTR Jakarta.

Sementara itu, performa dan teknologi premium diwakili Aprilia Tuareg 660 dengan banderol mencapai Rp 662 juta. Opsi yang lebih ramah di kantong hadir lewat Morbidelli T502X seharga Rp 159 juta, serta QJMotor Tourino 700 SX yang dipasarkan Rp 219 juta OTR Jakarta.

Di tengah persaingan tersebut, Versys 650 tetap memegang filosofi awalnya sebagai motor penjelajah serbaguna—nyaman untuk perjalanan jauh, namun tetap bersahabat untuk rutinitas harian.


Fitur Tetap Andal, Siap Menemani Perjalanan

Meski tampil dengan warna baru, kelengkapan fitur Versys 650 2026 masih dipertahankan. Panel instrumen TFT berwarna tetap menjadi pusat informasi, lengkap dengan konektivitas smartphone untuk menampilkan notifikasi dan data kendaraan.

Sisi keselamatan mengandalkan Kawasaki Traction Control (KTRC) yang membantu menjaga traksi roda belakang di berbagai kondisi jalan. Teknologi Dual Throttle Valves juga tetap hadir untuk menjaga respons mesin tetap halus dan efisien, didukung Economical Riding Indicator sebagai panduan berkendara hemat.

Di sektor rangka, sistem ABS masih menjadi standar, sementara fitur ERGO-FIT memungkinkan penyesuaian ergonomi agar posisi berkendara terasa lebih personal dan nyaman.


Spesifikasi Tetap Konsisten dan Terbukti

Versys 650 2026 masih mengusung mesin 649 cc dua silinder paralel berpendingin cairan yang menghasilkan tenaga 67 PS pada 8.500 rpm dan torsi 61 Nm di 7.000 rpm. Tenaga disalurkan melalui transmisi manual 6 percepatan dengan kopling wet multi-disc dan final drive rantai.

Rangka diamond berbahan high-tensile steel dipadukan dengan suspensi depan upside-down 41 mm dan monoshock belakang offset laydown. Travel suspensi 150 mm di depan dan 145 mm di belakang membuat motor ini tetap nyaman saat melibas jalan bergelombang.

Dengan bobot 199 kg, tangki bahan bakar 21 liter, serta ergonomi touring yang matang, Versys 650 tetap menjadi pilihan rasional bagi rider yang menginginkan keseimbangan antara kenyamanan, performa, dan kepraktisan.

Continue Reading

Motor

Fitur HSTC New Honda ADV160, Teman Setia Berkendara Aman Saat Libur Lebaran

Published

on

By

Menjelang momen libur Lebaran, keselamatan berkendara menjadi prioritas utama, terutama bagi pemotor yang harus melintasi jalur mudik panjang hingga kawasan wisata dengan kondisi jalan yang tak selalu ideal. Hujan, permukaan licin, hingga kontur jalan yang beragam kerap menjadi tantangan tersendiri di perjalanan.

Di sinilah New Honda ADV160 hadir sebagai partner perjalanan yang lebih menenangkan. Skutik petualang ini dibekali fitur Honda Selectable Torque Control (HSTC), sebuah sistem kontrol traksi pintar yang dirancang untuk menjaga stabilitas motor saat menghadapi berbagai kondisi jalan.

HSTC bekerja dengan memantau perbedaan putaran roda dan secara otomatis mengatur torsi mesin ketika roda belakang terdeteksi kehilangan traksi. Hasilnya, akselerasi tetap terasa halus dan ban belakang tidak mudah selip, terutama saat melewati jalan basah, berpasir, atau permukaan yang tidak rata.

Manfaatnya sangat terasa di musim hujan. Dalam situasi tertentu, membuka gas di jalan licin sering membuat roda belakang terasa “ngesot” atau seperti ingin mendahului roda depan. Dengan HSTC, distribusi tenaga dijaga tetap seimbang, sehingga motor lebih patuh mengikuti arah kemudi dan pengendara bisa tetap percaya diri.

Tak hanya canggih, fitur ini juga mudah digunakan. Status HSTC dapat dipantau langsung melalui panel meter, sementara pengaktifan atau penonaktifan cukup dilakukan lewat tombol di setang kiri. Pengendara pun bebas menyesuaikan fitur ini sesuai kebutuhan dan kondisi jalan yang dihadapi.

Memasuki libur Lebaran, kesiapan motor bukan hanya soal mesin prima dan ban tebal, tetapi juga dukungan teknologi keselamatan. Kehadiran HSTC pada New Honda ADV160 menjadi nilai tambah penting yang menghadirkan rasa aman, kenyamanan, dan ketenangan sepanjang perjalanan—baik saat mudik maupun berwisata bersama keluarga.

Dengan teknologi ini, Honda kembali menegaskan komitmennya menghadirkan inovasi yang benar-benar terasa manfaatnya di kondisi berkendara sehari-hari.

Continue Reading

Motor

Alpinestars Hadirkan Airbag Paling Canggih untuk Pemotor, Ringan dan Siap Selamatkan Nyawa

Published

on

By

Keselamatan berkendara kini memasuki level baru. Alpinestars kembali menunjukkan kelasnya sebagai pemain utama apparel pemotor dunia dengan meluncurkan rompi airbag pintar teranyar yang diklaim paling ringan, paling nyaman, sekaligus paling canggih yang pernah mereka buat.

Produk anyar bernama Tech-Air 5 Plasma ini merupakan hasil lebih dari dua dekade riset dan pengembangan. Alpinestars menyebutnya sebagai lompatan besar menuju standar keselamatan “next level” bagi pengendara motor, baik di jalan raya maupun lintasan.

Dibanderol £699.99 atau setara Rp16 jutaan, Tech-Air 5 Plasma hadir dalam ukuran XS hingga 4XL dan resmi menggantikan generasi Tech-Air 5 sebelumnya. Sejumlah pembaruan signifikan dilakukan, mulai dari hardware sensor, penyempurnaan software, hingga pengurangan bobot hingga 0,4 kg, menjadikannya airbag Alpinestars paling ringan sejauh ini.

Inti kecanggihannya terletak pada enam sensor presisi tinggi yang terdiri dari akselerometer dan giroskop triaksial. Seluruh data gerakan tubuh pengendara dianalisis oleh algoritma berbasis AI, yang dibangun dari basis data kecelakaan sejak 2004—saat Alpinestars mulai mengumpulkan data dari para pembalap MotoGP.

Jutaan kilometer pengujian dan ribuan data kecelakaan nyata menjadi fondasi sistem ini. Hasilnya, Tech-Air 5 Plasma mampu menyesuaikan respons melalui beberapa mode berkendara: Street, Race, dan Off-Road, masing-masing dengan sensitivitas aktivasi berbeda.

Ketika kecelakaan terdeteksi, rompi airbag ini dapat mengembang hanya dalam 20 milidetik—waktu yang sangat krusial untuk melindungi tubuh pengendara dari cedera serius. Pengoperasiannya pun dibuat sederhana: cukup tutup ritsleting dan pengunci magnet di bagian depan, lalu sistem akan aktif secara otomatis. Indikator LED dan getaran sensorik memberi konfirmasi bahwa airbag siap bekerja.

Tak hanya itu, Tech-Air 5 Plasma juga terhubung ke aplikasi pendamping yang memungkinkan pengguna memantau status sistem, daya baterai, hingga pembaruan firmware. Fitur “MyRide” turut disematkan untuk merekam perjalanan dan memetakan rute, menjadikan rompi ini bukan sekadar alat keselamatan, tetapi juga partner berkendara modern.

Sumber dayanya berasal dari baterai lithium-ion terintegrasi dengan daya tahan hingga 30 jam, serta pengisian cepat melalui port USB-C. Dengan bobot hanya 1.530 gram, rompi ini 25 persen lebih ringan dibanding generasi sebelumnya, sekaligus lebih ramping dan fleksibel untuk digunakan di balik jaket riding.

Dari sisi perlindungan, Tech-Air 5 Plasma dibekali pelindung punggung Level 1 dan kantung udara bersertifikasi EN1621-4:2013 Level 1. Sistem ini juga dirancang praktis, karena tabung gas dapat diganti sendiri di rumah jika airbag mengembang, tanpa perlu ke pusat servis.

Alpinestars merekomendasikan perawatan berkala setiap dua tahun atau 500 jam pemakaian, dengan usia pakai sistem hingga 10 tahun. Sebuah bukti bahwa teknologi keselamatan kini bukan lagi opsi, melainkan investasi penting bagi setiap pemotor.

Dengan Tech-Air 5 Plasma, Alpinestars menegaskan satu pesan kuat: keselamatan bukan hanya soal perlindungan, tapi juga tentang kepercayaan diri untuk menikmati setiap kilometer perjalanan.

Continue Reading

Trending