Connect with us

Moto GP

Mengintip Gaji dan Bonus Pebalap MotoGP: Di Balik Kecepatan, Ada Angka Fantastis

Published

on

Di balik raungan mesin dan duel sepersekian detik di lintasan MotoGP, ada satu topik yang selalu menarik perhatian namun jarang dibahas secara terbuka: uang. Ya, dunia MotoGP bukan hanya soal keberanian dan skill, tetapi juga soal nilai kontrak yang bisa mengubah hidup seorang pembalap dalam semalam.

Untuk musim 2025–2026, peta finansial MotoGP mengalami pergeseran besar. Dominasi pabrikan Jepang yang dulu identik dengan kontrak super mahal kini mulai tergeser oleh strategi baru dari Eropa, terutama Ducati dan Aprilia. Meski detail kontrak para rider bersifat rahasia, bocoran dari paddock serta laporan media internasional kredibel memberikan gambaran cukup jelas tentang berapa “harga” para gladiator aspal saat ini.

Secara umum, struktur pendapatan pebalap MotoGP terdiri dari gaji pokok dan bonus performa. Kontrak 2026 sebagian besar merupakan kelanjutan dari perjanjian 2025, sehingga pola pembayarannya relatif serupa.


Raja Gaji MotoGP

Di puncak piramida, hanya ada satu nama yang benar-benar berdiri sendiri. Fabio Quartararo menjadi pebalap dengan gaji pokok tertinggi. Yamaha berani membayar mahal demi menjaga “El Diablo” tetap bertahan, meski performa motor mereka belum sepenuhnya kembali kompetitif. Nilai kontrak ini bukan sekadar bayaran, tetapi juga bentuk kepercayaan dan kesabaran jangka panjang.


Para Penantang Gelar

Di bawahnya, ada barisan pembalap yang hidup dari kombinasi gaji besar dan bonus menggiurkan. Marc Marquez misalnya, meski tak lagi menerima gaji super seperti saat di Honda, memiliki klausul bonus performa yang sangat agresif bersama Ducati. Artinya, semakin sering ia menang, semakin deras pula aliran uang masuk.

Sementara itu, Francesco Bagnaia memiliki kontrak yang sangat “berbasis hasil”. Gaji pokoknya solid, namun status juara dunia bisa langsung melambungkan total pendapatannya ke level elite. Jorge Martin, yang kini memikul status pembalap utama, juga menikmati lonjakan bayaran sebagai pengakuan atas performa dan konsistensinya.


Pejuang Pabrikan dan Bintang Masa Depan

Di level berikutnya, para pebalap pabrikan dan satelit papan atas tetap menerima bayaran jutaan euro per musim. Nama-nama seperti Maverick Viñales, Joan Mir, Johann Zarco, hingga Brad Binder menjadi tulang punggung tim masing-masing, dengan kontrak yang mencerminkan pengalaman dan nilai teknis mereka.

Sementara itu, generasi baru seperti Pedro Acosta dan Marco Bezzecchi memang belum menikmati gaji setinggi para senior, tetapi grafik pendapatan mereka diprediksi menanjak tajam seiring performa yang terus mencuri perhatian.


Bonus: Hadiah Manis di Balik Podium

Gaji pokok hanyalah awal. Bonus balapan justru menjadi sumber pemasukan yang bisa membuat seorang pembalap “panen” dalam semusim. Kemenangan di race utama bernilai ratusan ribu euro, sementara podium dan Sprint Race juga punya nilai tersendiri. Puncaknya tentu bonus Juara Dunia, yang bisa mencapai jutaan euro, belum termasuk bonus dari sponsor pribadi.

Inilah yang membuat MotoGP begitu keras sekaligus menggoda. Ada tim yang memilih membayar mahal demi stabilitas, ada pula yang menawarkan motor super cepat dengan skema “siapa cepat, dia kaya”.

Pada akhirnya, setiap pembalap dihadapkan pada pilihan hidup: gaji besar dengan motor yang belum sempurna, atau motor kompetitif dengan bonus yang harus diperjuangkan habis-habisan.

Kalau kamu di posisi mereka, pilihan mana yang bakal diambil?

Moto GP

Tes Shakedown MotoGP 2026 Jadi Panggung Awal Revolusi Yamaha V4

Published

on

By

Tes Shakedown MotoGP 2026 menjadi langkah awal yang krusial bagi seluruh pabrikan sebelum memasuki rangkaian uji coba resmi. Sesi ini dimanfaatkan tim untuk melakukan pemanasan teknis: mulai dari menguji komponen baru, memastikan sistem elektronik bekerja optimal, hingga mendeteksi potensi masalah mekanis sejak dini agar tidak mengganggu agenda pengembangan utama.

Shakedown memiliki arti khusus karena menjadi satu-satunya celah pengujian resmi di tengah larangan tes umum sepanjang Januari. Namun, tidak semua pembalap reguler diperbolehkan turun ke lintasan. Sesuai regulasi, hanya pembalap penguji (test rider) dan pembalap rookie yang mendapat kesempatan, demi mempercepat proses adaptasi dan pengembangan motor.

Musim ini, sorotan juga tertuju pada jajaran rookie seperti Diogo Moreira, juara dunia Moto2 2025 yang memperkuat Pro Honda LCR, serta Toprak Razgatlioglu, tiga kali juara WorldSBK yang menjalani debut MotoGP bersama Prima Pramac Yamaha. Keduanya memanfaatkan sesi ini untuk mengenal karakter motor dan atmosfer kelas premier.

Keistimewaan lain datang dari Yamaha, satu-satunya pabrikan yang saat ini memegang konsesi level D. Status tersebut memberi keuntungan strategis berupa izin menurunkan pembalap utama lebih awal, termasuk Fabio Quartararo dan Alex Rins. Keuntungan waktu ini menjadi sangat penting, mengingat Yamaha tengah menjalani perubahan teknis terbesar dalam sejarah modern mereka: transisi dari mesin inline-4 menuju konfigurasi V4.

Mesin V4 Yamaha pun langsung menjadi pusat perhatian paddock. Ini bukan sekadar pengembangan biasa, melainkan simbol tekad Yamaha untuk mengejar ketertinggalan performa dari Ducati dan Aprilia, terutama dalam hal tenaga dan akselerasi.

Sinyal positif mulai terlihat sejak hari-hari awal. Di tangan Jack Miller, proyek V4 Yamaha menunjukkan potensi menjanjikan. Meski harus menghadapi kondisi cuaca yang lebih panas dan lembap, performa motor tampak melonjak signifikan dibandingkan musim sebelumnya.

Pada hari kedua Tes Shakedown, Miller mencatat waktu tercepat 1 menit 57,908 detik, unggul tipis 0,025 detik dari pesaing terdekat. Catatan ini hampir satu detik lebih cepat dibandingkan waktu terbaik Yamaha pada tes tahun 2025—sebuah indikasi kuat bahwa arah pengembangan mereka berada di jalur yang tepat.

Fabio Quartararo juga membuka musim 2026 dengan optimisme, menempatkan dua motornya di posisi lima besar. Sementara itu, Toprak Razgatlioglu terus menunjukkan progres adaptasi yang impresif terhadap mesin V4 dan ban Michelin, memangkas waktu hingga 0,8 detik dari hari pertama dan menembus posisi sepuluh besar.

Tes Shakedown ini bukan sekadar catatan waktu, melainkan pembuktian awal bahwa Yamaha benar-benar serius menulis ulang kisah kebangkitan mereka di era baru MotoGP.

Continue Reading

Moto GP

Valentino Rossi Cicipi Mandalika, Gas Pol Yamaha R1 GYTR Pro Bernomor Ikonik 46

Published

on

By

Nama besar Valentino Rossi kembali menggema di Sirkuit Internasional Mandalika. Kamis (29/1), legenda hidup MotoGP itu akhirnya merasakan langsung karakter lintasan kebanggaan Indonesia dengan menunggangi Yamaha YZF-R1 GYTR Pro, motor balap spesial yang sarat identitas dan sejarah.

Rossi turun ke aspal Mandalika menggunakan R1 GYTR Pro VR46 Tribute, sebuah mesin berbasis Yamaha R1 produksi massal yang telah dipersenjatai paket Genuine Yamaha Technology Racing (GYTR). Sentuhan balap penuh membuat motor ini tampil jauh lebih agresif, mulai dari fairing berbahan karbon, kopling basah multi-disk, hingga transmisi 6-percepatan khas motor performa tinggi.

Momen ini terasa istimewa karena menjadi pengalaman pertama Rossi menjajal Mandalika, meski ia telah lama pensiun dari persaingan MotoGP. Menariknya, adaptasi The Doctor berlangsung cepat. Dalam sesi tersebut, Rossi mampu mencatatkan waktu 1 menit 36,276 detik, torehan yang menunjukkan bahwa naluri balapnya masih tajam.

Sebelum benar-benar turun dengan motor, Rossi sempat tertahan akibat hujan deras yang mengguyur sirkuit. Ia pun memanfaatkan waktu dengan menjajal aspal Mandalika menggunakan safety car Honda Civic Type R, sebelum akhirnya kondisi lintasan memungkinkan untuk sesi motor.

Yamaha R1 yang digunakannya tetap mengusung nomor keramat 46, simbol yang melekat kuat sepanjang perjalanan karier Rossi. Motor ini kerap digunakan dalam sesi latihan privat bersama VR46 Riders Academy, program pembinaan pembalap muda yang dipimpin langsung olehnya.

Kehadiran Rossi di Mandalika tak hanya soal nostalgia, tetapi juga bagian dari agenda latihan intensif bersama tim VR46 dan para murid akademinya selama beberapa hari. Program ini menjadi sarana transfer pengalaman, sekaligus penguatan mental dan teknik bagi generasi penerus.

Penampilan Rossi dengan wearpack Yamaha turut menyita perhatian publik, mengingat tim VR46 di MotoGP saat ini berafiliasi secara teknis dengan Ducati. Namun di Mandalika, warna biru Yamaha kembali menyatu dengan sosok yang pernah menjadi ikon terbesarnya.

Agenda Rossi dan tim VR46 di Mandalika dijadwalkan berlangsung hingga akhir Januari 2026, sebelum melanjutkan rangkaian aktivitas internasional, termasuk menghadapi tes pramusim MotoGP di Sepang, Malaysia.

Continue Reading

Moto GP

Fabio Quartararo Resmi Tinggalkan Yamaha, Honda Jadi Pelabuhan Baru di MotoGP 2027

Published

on

By

Kabar besar mengguncang paddock MotoGP. Fabio Quartararo dipastikan akan mengakhiri kisah panjangnya bersama Yamaha dan memulai babak baru bersama Honda mulai musim 2027. Informasi ini menjadi sinyal awal pergerakan besar di bursa pembalap menjelang diberlakukannya regulasi teknis anyar MotoGP.

Pembalap asal Prancis berusia 26 tahun tersebut telah menyepakati kontrak berdurasi dua musim dengan Honda, mencakup musim 2027 dan 2028. Keputusan ini sekaligus menutup perjalanan emosional Quartararo bersama Yamaha, pabrikan yang membawanya naik ke kelas premier pada 2019 dan mengantarkannya menjadi juara dunia MotoGP 2021.

Namun, kejayaan itu perlahan memudar seiring menurunnya daya saing Yamaha M1 dalam beberapa musim terakhir. Ketidaksesuaian antara ekspektasi dan performa di lintasan menjadi tekanan yang terus terakumulasi, hingga akhirnya mendorong El Diablo memilih jalur baru demi menjaga ambisi dan kariernya di level tertinggi.

Selama berseragam Yamaha, Quartararo mencatatkan 11 kemenangan, 32 podium, dan 21 pole position, statistik yang menegaskan statusnya sebagai salah satu talenta terbaik generasinya. Musim 2026 akan menjadi tahun perpisahan, sekaligus fase transisi menuju era baru MotoGP 2027 yang ditandai dengan penggunaan mesin empat silinder berkapasitas 850 cc.

Belum ada kepastian sejauh mana Yamaha akan melibatkan Quartararo dalam pengembangan motor generasi baru tersebut. Ketidakjelasan ini semakin memperlebar jarak emosional antara sang juara dunia dan tim, terutama setelah kepercayaannya terhadap arah proyek Yamaha mulai goyah.

Padahal, saat memperpanjang kontrak pada April 2024, Quartararo sempat menyatakan keyakinannya terhadap investasi dan komitmen Yamaha untuk kembali kompetitif. Dari sisi finansial dan organisasi, pabrikan asal Iwata memang memenuhi janji. Sayangnya, peningkatan performa di lintasan belum mampu menjawab harapan besar sang pembalap.

Perubahan struktur manajemen Yamaha turut memberi warna dalam dinamika ini. Pergantian Lin Jarvis oleh Paolo Pavesio menghadirkan pendekatan baru yang dinilai tidak sepenuhnya sejalan dengan karakter dan kebutuhan Quartararo sebagai rider utama.

Dengan kepastian bergabungnya Quartararo, perhatian kini tertuju pada susunan pembalap Honda untuk musim 2027. Kontrak Joan Mir dan Luca Marini akan berakhir pada akhir 2026, membuka ruang spekulasi besar di dalam tubuh HRC.

Honda disebut masih menimbang berbagai aspek, mulai dari motivasi Joan Mir hingga kecocokan teknis Luca Marini dengan insinyur Jepang. Di luar itu, nama Pedro Acosta dan Jorge Martin juga masuk dalam radar sebagai opsi potensial.

Jika kepindahan ini terealisasi sesuai rencana, transfer Fabio Quartararo ke Honda berpotensi menjadi salah satu perpindahan terbesar dalam satu dekade terakhir MotoGP, sekaligus menandai era baru bagi HRC dalam misi kembali mendominasi panggung balap motor dunia.


Jika kamu mau, saya bisa lanjutkan:

Continue Reading

Trending