Connect with us

Moto GP

Veda Ega Pratama Siap Taklukkan Brno, Bidik Kebangkitan di Moto3 Ceko 2026

Published

on

Pembalap muda Indonesia Veda Ega Pratama kembali bersiap melanjutkan perjuangannya pada putaran Moto3 2026 yang akan berlangsung di Automotodrom Brno, Republik Ceko. Seri ini menjadi tantangan baru bagi rider Honda Team Asia karena untuk pertama kalinya ia akan mengaspal di sirkuit legendaris tersebut.

Tak hanya Veda, rekan setimnya Zen Mitani juga berstatus rookie yang belum pernah merasakan karakter lintasan Brno. Meski demikian, keduanya datang dengan motivasi tinggi untuk memperbaiki performa sekaligus melanjutkan proses adaptasi di musim debut mereka pada Kejuaraan Dunia Moto3.

Brno, Sirkuit Bersejarah dengan Karakter Menantang

Automotodrom Brno dikenal sebagai salah satu lintasan paling ikonik dalam sejarah balap Grand Prix. Trek sepanjang 5,4 kilometer ini menawarkan kombinasi tikungan cepat, sektor teknis, serta perubahan elevasi yang cukup ekstrem sehingga menuntut kemampuan pembalap menjaga ritme dan presisi sepanjang balapan.

Sirkuit yang memiliki 14 tikungan tersebut kembali masuk kalender Kejuaraan Dunia MotoGP sejak musim 2025 dan langsung menjadi salah satu seri favorit para pembalap maupun penggemar karena karakteristiknya yang unik dan menantang.

Bagi para rookie seperti Veda, Brno bukan hanya menjadi tempat berburu poin, tetapi juga arena penting untuk menambah pengalaman di level tertinggi balap motor dunia.

Belajar dari Hungaria, Fokus Bangun Kepercayaan Diri

Setelah menghadapi akhir pekan yang sulit di Balaton Park, Hungaria, Veda mengaku membawa banyak pelajaran penting, terutama mengenai proses adaptasi di sirkuit baru dan bagaimana menghadapi berbagai situasi saat balapan berlangsung.

“Setelah Balaton Park, di mana hasil akhirnya tidak sesuai harapan, saya menantikan tantangan berikutnya di Brno. Kami belajar banyak dari akhir pekan itu, terutama tentang bagaimana beradaptasi lebih cepat di sirkuit baru dan menghadapi situasi sulit selama balapan.”

Menurut pembalap asal Gunungkidul tersebut, Brno memiliki karakter yang sangat menarik dengan kombinasi tikungan mengalir dan perubahan elevasi yang menuntut kepercayaan diri tinggi sejak awal sesi latihan.

Target Tampil Konsisten dan Raih Hasil Positif

Veda menegaskan fokus utamanya bukan hanya mengejar hasil akhir, tetapi membangun performa secara bertahap sepanjang akhir pekan balapan.

“Brno benar-benar trek baru bagi saya, tetapi saya sangat termotivasi. Target saya adalah memahami karakter lintasan sedikit demi sedikit, menemukan feeling terbaik dengan motor, membangun kepercayaan diri sejak sesi pertama, lalu terus berkembang setiap harinya agar bisa meraih hasil maksimal.”

Dengan bekal pengalaman dari beberapa putaran sebelumnya, Honda Team Asia optimistis Veda mampu menunjukkan perkembangan signifikan di Brno.

Dukungan dari para penggemar Indonesia juga diharapkan menjadi tambahan motivasi bagi pembalap muda berbakat tersebut untuk kembali bersaing di barisan depan dan mengamankan poin penting pada putaran Moto3 Republik Ceko 2026.

Moto GP

Bangkit dari Start Buruk, Kiandra Ramadhipa Amankan Poin di Moto3 Junior Prancis

Published

on

By

Muhammad Kiandra Ramadhipa berhasil mengakhiri paruh pertama Moto3 Junior World Championship 2026 dengan membawa pulang poin penting dari putaran Magny-Cours, Prancis, Minggu (26/7/2026). Pembalap muda binaan PT Astra Honda Motor (AHM) itu finis di posisi ke-12 setelah menjalani balapan penuh perjuangan di Circuit de Nevers Magny-Cours.

Hasil tersebut membuat Kiandra menambah empat poin sekaligus mempertahankan posisinya di peringkat kelima klasemen sementara dengan koleksi 64 poin. Modal ini menjadi bekal penting sebelum kejuaraan memasuki jeda musim panas selama hampir enam pekan.

Mengendarai Honda NSF250RW bersama Honda Asia-Dream Racing Team, Kiandra memulai balapan dari grid ke-12. Namun, start yang kurang sempurna membuat motornya mengalami wheelie sehingga kehilangan banyak posisi dan tercecer hingga urutan ke-18 pada lap pertama.

Meski menghadapi situasi sulit, pembalap asal Sleman, Yogyakarta itu tidak menyerah. Dalam tiga lap awal, ia tampil agresif dan berhasil menyalip tujuh pembalap untuk kembali masuk ke posisi ke-11. Sayangnya, rombongan terdepan sudah membuka jarak lebih dari tiga detik sehingga peluang mengejar kemenangan semakin sulit.

Melihat kondisi tersebut, Kiandra memilih strategi yang lebih realistis dengan memimpin grup kedua sambil menjaga konsistensi ritme balapan. Strategi itu terbukti efektif untuk mengamankan poin hingga garis finis.

Memasuki lap terakhir, Kiandra sempat memimpin rombongan kedua. Namun duel sengit di tikungan-tikungan terakhir membuatnya kehilangan satu posisi dan akhirnya menyelesaikan balapan di urutan ke-12.

Usai balapan, Kiandra mengakui kesalahan saat start menjadi faktor utama yang memengaruhi hasil akhir.

“Saya melakukan kesalahan saat start sehingga motor mengalami wheelie dan saya turun ke posisi ke-18. Rombongan terdepan sudah terlalu jauh untuk dikejar, sehingga saya memutuskan bertarung di grup kedua demi mengamankan poin.”

Ia juga menegaskan akan memanfaatkan jeda musim panas untuk meningkatkan performa sebelum seri berikutnya.

“Ini bukan akhir pekan terbaik, tapi banyak pelajaran yang kami dapat. Saya akan memanfaatkan jeda musim panas untuk berlatih lebih keras agar tampil lebih kuat di Valencia.”

General Manager Marketing Planning & Analysis PT Astra Honda Motor, Andy Wijaya, memberikan apresiasi terhadap semangat juang Kiandra sepanjang balapan.

Menurutnya, perjuangan Kiandra menunjukkan mental pantang menyerah yang menjadi modal penting untuk bersaing di level internasional. AHM optimistis pembalap berusia 16 tahun tersebut mampu tampil lebih kompetitif pada putaran berikutnya.

Sepanjang paruh musim Moto3 Junior World Championship 2026, lulusan Astra Honda Racing School 2022 itu telah mengoleksi tiga kemenangan, satu podium tambahan, dan kini bertengger di posisi kelima klasemen sementara.

Kejuaraan akan kembali bergulir setelah jeda musim panas pada 4–6 September 2026 di Circuit Ricardo Tormo, Valencia, Spanyol.

Continue Reading

Moto GP

Berapa Harga Ban MotoGP? Ini Fakta di Balik Biaya Ban Balap Paling Rahasia di Dunia

Published

on

By

Pergantian pemasok ban MotoGP dari Michelin ke Pirelli mulai musim 2027 kembali memunculkan satu pertanyaan yang sejak lama menjadi misteri di dunia balap motor: berapa sebenarnya harga satu ban MotoGP, dan siapa yang membayar seluruh kebutuhan ban selama satu musim?

Selama bertahun-tahun, MotoGP dikenal sebagai salah satu kejuaraan motorsport dengan tingkat kerahasiaan yang sangat tinggi. Mulai dari nilai kontrak pembalap, anggaran tim, hingga biaya operasional seperti penyediaan ban, hampir tidak pernah dipublikasikan secara terbuka.

Kini, menjelang era baru MotoGP bersama Liberty Media dan regulasi mesin 850 cc pada 2027, sejumlah informasi mulai terungkap.


Era Baru MotoGP: Michelin Digantikan Pirelli

MotoGP pertama kali menerapkan sistem single tyre supplier pada musim 2009 ketika Bridgestone dipercaya menjadi pemasok tunggal ban balap.

Kemudian, mulai musim 2016, Michelin mengambil alih tugas tersebut dan akan mengakhiri kiprahnya setelah musim 2026 selesai.

Memasuki regulasi baru tahun 2027, Pirelli resmi menjadi pemasok tunggal ban untuk MotoGP, Moto2, dan Moto3, sekaligus menyatukan seluruh kelas Grand Prix di bawah satu produsen ban.

Pergantian ini bukan hanya soal performa ban di lintasan, tetapi juga berkaitan dengan investasi, pengembangan teknologi, hingga biaya operasional yang nilainya mencapai puluhan juta euro setiap musim.


Siapa Sebenarnya yang Membayar Ban MotoGP?

Banyak yang mengira seluruh biaya ban ditanggung oleh tim peserta. Faktanya, sistem yang berlaku jauh lebih kompleks.

Direktur Balap Motor Pirelli, Giorgio Barbier, menjelaskan bahwa dalam kompetisi dunia seperti MotoGP maupun Formula 1, hubungan antara promotor dan pemasok ban dibangun melalui proses negosiasi bisnis.

Pemasok ban memang membayar biaya lisensi kepada promotor agar menjadi pemasok resmi. Namun di sisi lain, produsen ban juga harus menanggung biaya produksi ban, pengembangan teknologi, logistik, tenaga teknis, hingga operasional di setiap seri balapan.

Nilai keseluruhan investasi tersebut bisa mencapai puluhan juta euro setiap musim.

Dengan kata lain, status sebagai pemasok resmi bukan sekadar memasok ban, tetapi juga menjadi bagian dari investasi besar dalam pengembangan teknologi balap dunia.


Apakah Tim MotoGP Membayar Ban?

Untuk kelas MotoGP, jawabannya adalah tidak.

Ban yang digunakan setiap akhir pekan balapan telah menjadi bagian dari sistem yang disiapkan penyelenggara bersama pemasok ban.

Berbeda dengan World Superbike (WSBK), di mana tim masih harus mengeluarkan biaya tertentu untuk penggunaan ban.

Sementara itu, pada kelas Moto2 dan Moto3 terdapat mekanisme yang berbeda sesuai regulasi masing-masing kejuaraan.


Kenapa Ban MotoGP Tidak Bisa Dibeli Publik?

Salah satu aturan paling ketat dalam kontrak pemasok ban MotoGP adalah larangan menjual ban spesifikasi MotoGP kepada masyarakat umum.

Tujuannya sangat jelas, yaitu menjaga kesetaraan kompetisi.

Jika ban MotoGP dijual bebas, tim ataupun pabrikan bisa membeli ban identik untuk melakukan pengujian pribadi di luar jadwal resmi.

Karena alasan tersebut, distribusi ban MotoGP dikontrol secara penuh oleh penyelenggara.

Setiap pabrikan hanya memperoleh alokasi ban uji dalam jumlah terbatas setiap musim, biasanya berkisar antara 170 hingga 260 unit, tergantung status konsesi masing-masing.


Jadi Berapa Harga Satu Ban MotoGP?

Inilah pertanyaan yang hingga kini masih belum memiliki jawaban pasti.

Giorgio Barbier menolak mengungkap harga resmi ban MotoGP, tetapi ia memberikan sedikit gambaran mengenai biaya produksinya.

Sebagai perbandingan, ban belakang Pirelli Diablo Superbike yang dijual untuk kompetisi memiliki harga sekitar 300 euro, atau sekitar Rp6 jutaan.

Menurut Barbier, ban MotoGP diproduksi menggunakan fasilitas, mesin, dan tenaga ahli yang sama. Perbedaannya hanya terletak pada material, konstruksi, dan proses pengembangan yang jauh lebih kompleks.

Artinya, harga produksi ban MotoGP dipastikan jauh lebih tinggi, meski angka resminya tetap menjadi rahasia antara Pirelli dan penyelenggara MotoGP.


Teknologi Balap Turun ke Motor Harian

Meski ban MotoGP tidak diperjualbelikan, teknologi yang dikembangkan untuk kelas premier tetap memberikan manfaat bagi konsumen.

Pirelli memastikan pengalaman dari lintasan balap digunakan sebagai dasar pengembangan ban performa tinggi untuk motor sport yang dipasarkan secara global.

Dengan demikian, inovasi yang lahir dari MotoGP tetap bisa dirasakan oleh pengguna motor jalan raya melalui produk-produk komersial mereka.

Continue Reading

Moto GP

Honda Rekrut David Alonso untuk MotoGP 2027, HRC atau LCR Masih Jadi Teka-teki

Published

on

By

Honda Racing Corporation (HRC) terus mempersiapkan skuad masa depan dengan merekrut salah satu talenta muda paling menjanjikan di dunia balap, David Alonso, untuk mengarungi MotoGP musim 2027. Meski kepastian bergabungnya Alonso telah dikonfirmasi, Honda masih belum memutuskan apakah pembalap muda tersebut akan langsung memperkuat tim pabrikan HRC atau memulai kariernya bersama LCR Honda.

Langkah ini menunjukkan keseriusan Honda dalam membangun kembali kekuatannya menjelang era baru MotoGP yang akan menggunakan mesin 850 cc mulai 2027. Dengan mengombinasikan pembalap berpengalaman dan talenta muda, HRC berharap mampu kembali bersaing di papan atas.

David Alonso Jadi Investasi Masa Depan Honda

Nama David Alonso bukan sosok asing di paddock Grand Prix.

Pembalap muda yang sukses meraih gelar Juara Dunia Moto3 2024 tersebut kini menjalani musim keduanya di kelas Moto2.

Performa konsisten membuat Alonso mampu bersaing di papan atas klasemen sementara Moto2 2026 dengan menempati posisi keempat, sekaligus menarik perhatian Honda untuk mengamankan jasanya sebelum direkrut pabrikan lain.

HRC atau LCR? Kursi Alonso Belum Dipastikan

Meski telah resmi direkrut untuk MotoGP 2027, Honda masih belum menentukan di tim mana Alonso akan memulai debutnya.

Salah satu kursi tim pabrikan HRC telah dipastikan ditempati Fabio Quartararo mulai musim depan.

Sementara itu, Johann Zarco dan Diogo Moreira masih memiliki kontrak jangka panjang bersama Honda sehingga komposisi pembalap masih belum final.

Situasi tersebut membuka dua kemungkinan. Alonso bisa langsung dipromosikan ke tim pabrikan HRC, atau memulai adaptasi bersama LCR Honda apabila Moreira mendapat promosi ke tim utama.

Honda Siapkan Regenerasi Menuju Era Baru MotoGP

Rekrutmen David Alonso menjadi bagian dari strategi jangka panjang Honda menghadapi perubahan regulasi MotoGP 2027.

Era baru dengan mesin 850 cc diprediksi akan mengubah peta persaingan sehingga memiliki pembalap muda berbakat menjadi aset penting bagi setiap pabrikan.

Dengan usia yang masih sangat muda, pengalaman sebagai Juara Dunia Moto3, serta performa kompetitif di Moto2, David Alonso dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi salah satu bintang MotoGP di masa depan.

Kini, perhatian tertuju pada keputusan Honda mengenai penempatan Alonso, apakah langsung mengenakan seragam tim pabrikan HRC atau terlebih dahulu mengasah kemampuannya bersama LCR Honda.

Continue Reading

Trending