Connect with us

Event

Prestasi Gemilang: Ebon Raih Gelar Terbaik FFA 2 Tak 402 M Dragbike IDW Racertees Ekitoyama 2024

Published

on

Tidak dapat disangkal bahwa kehadiran joki asal Thailand ini telah menambahkan kegembiraan dan persaingan yang semakin sengit.

Terjadi pada gelaran Independent Drag Wars (IDW) Racertees Ekitoyama 2024 Seri 1 di Sirkuit Lanud Gading, Wonosari, Yogyakarta pada Sabtu (28 April) lalu.

Salah satu dari mereka adalah joki Thailand, Ball Nakhonnayok, atau yang lebih dikenal dengan nama Ebon, yang telah beberapa kali bersaing di Indonesia.

Yap, pada ajang IDW 2024 ini, Ebon berhasil meraih gelar juara di kategori Free For All (FFA) 402 M. Dengan waktu 10.055 detik, ia mencatat prestasi gemilangnya dalam lomba FFA 2 Tak yang menjangkau jarak sejauh 402 Meter ini.

Motor yang digunakan oleh Ebon merupakan hasil dari proyeksi karya Tekno Tuner HS.

Kreasi balap dari tangan mekanik Ko Hans ini berhasil mengungguli kendaraan dari IPR Racing Team yang disiapkan oleh Aor 77 Shop dan dikendarai oleh Arya Saputra dengan waktu terbaik 10.178 detik.

Event

F1 Abu Dhabi 2025: Duel Terakhir Verstappen vs Norris, Gelar Dunia di Ujung Pisau

Published

on

By

Musim Formula 1 2025 akhirnya tiba di tikungan terakhir. Sirkuit Yas Marina bersiap menjadi panggung penentuan takdir antara tiga gladiator: Lando Norris, Max Verstappen, dan Oscar Piastri. Satu putaran lagi, satu trofi lagi, dan satu nama yang akan tercatat sebagai juara dunia. Tegangan jelang final terasa seperti udara panas gurun yang menekan, tak memberi ruang bernapas.

Bursa juara sementara dipimpin Norris dengan 408 poin, disusul Verstappen di 396 poin, dan Piastri 392 poin. Secara matematis semua masih hidup—secara emosional, semua terasa mungkin.

Norris: Peluang Terbesar, Beban Terberat

Norris memasuki Abu Dhabi dengan keunggulan 12 poin. Secara hitungan, tugasnya cukup jelas:
Finish di depan Verstappen & Piastri → Juara dunia.
• Bahkan jika hanya finish P3, ia tetap mengunci gelar, asalkan dua rival utamanya tak merebut lebih banyak poin.

Namun justru di sinilah tekanannya. Gelar pertama selalu yang paling berat. Satu kesalahan kecil di Yas Marina bisa menghapus kerja keras satu musim.

Piastri: Harapan Tipis tapi Tajam

Piastri datang sebagai penantang paling rapuh secara angka—minus 16 poin dari Norris. Ia wajib menang, lalu berharap Norris tidak lebih dari P6. Peluangnya kecil, tetapi Piastri dikenal sebagai pembalap yang tak pernah takut pada skenario mustahil. Jika ada yang bisa membuat kejutan di putaran terakhir, ia salah satunya.

Verstappen: Sang Juara Bertahan di Persimpangan Nasib

Verstappen berada di tengah pusaran tekanan. Kemenangan saja tidak cukup—ia harus menang dan berharap bantuan dari luar.
Red Bull tak bisa mengandalkan Tsunoda untuk memotong laju Norris, sehingga harapan Max bergantung pada pembalap lain seperti:
George Russell & Andrea Kimi Antonelli (Mercedes)
Carlos Sainz (Williams)
Charles Leclerc (Ferrari)
atau siapa pun yang tiba-tiba menemukan performa podium.

Jika Verstappen hanya finish P4, skenarionya makin kompleks. Ia bisa tetap juara jika:
• Piastri gagal finis P1/P2, dan
• Norris tidak meraih poin sama sekali.

Dalam kondisi ini, Verstappen dan Norris akan seri poin 408–408, namun gelar jatuh ke tangan Verstappen karena memiliki jumlah finis P2 lebih banyak (8 banding 5).

Pertarungan Terakhir yang Tak Bisa Ditebak

Abu Dhabi bukan hanya balapan penutup—tapi babak final paling terbuka dalam satu dekade terakhir. Tiga pembalap dengan mental juara, tiga mobil yang sama-sama kompetitif, dan satu sirkuit yang sering melahirkan drama tak terduga.

Jika keberuntungan kembali memeluk Verstappen seperti di Vegas dan Qatar, sejarah bisa terulang.
Jika Norris menjaga ketenangan di tengah badai, gelar dunia pertamanya tinggal sejengkal.
Jika Piastri menemukan keajaiban, musim 2025 akan tercatat sebagai salah satu penutup paling gila dalam sejarah F1.

Apa pun hasilnya, Yas Marina siap meledak.

Continue Reading

Event

Grid World Sportbike 2026 Resmi Dirilis: Era Baru Balap Motor Siap Meledak

Published

on

By

Musim perdana World Sportbike 2026 akhirnya menyingkap seluruh lini pembalap dan tim yang akan bertarung. Deru mesin kelas menengah ini bukan sekadar memulai kejuaraan baru—ia membuka babak sejarah yang diyakini menjadi salah satu musim paling ketat dalam lintasan balap produksi massal.

FIM telah menetapkan aturan baru yang membuat kompetisi semakin padat. Jumlah pembalap permanen kini bertambah menjadi 33 rider, plus 1 wildcard. Semua kursi terisi penuh bahkan sebelum musim dimulai, bukti antusiasme luar biasa dari pabrikan dan tim terhadap kategori baru ini.

Dari delapan pabrikan yang mengajukan homologasi, enam di antaranya langsung meluncurkan amunisi sejak musim perdana. Komposisinya memperlihatkan betapa sengitnya peta kekuatan:

  • 12 Yamaha
  • 8 Kawasaki
  • 4 Aprilia
  • 4 Triumph
  • 3 Suzuki
  • 2 Kove

Ini bukan sekadar angka—ini adalah deklarasi perang teknologi dan strategi di lintasan.

Menariknya, performa pabrikan di level nasional seperti BSB dan CIV memberikan gambaran awal betapa dinamisnya musim ini. Suzuki dan Triumph tampil kuat di kejuaraan domestik, namun mayoritas pabrikan lain juga datang dengan rekam jejak yang tak bisa disepelekan.

Hal inilah yang membuat prediksi juara terasa seperti menebak badai di kejauhan: tanda-tandanya ada, tapi hasil akhirnya hanya bisa ditentukan oleh kombinasi kesempurnaan motor, kekuatan tim, dan keteguhan pembalap sepanjang musim.

Dari komposisi rider, hanya satu pembalap berbahasa Jerman yang tampil, yaitu Phillip Tonn dari Kove—sebuah kontras menarik mengingat dominasi pembalap Spanyol dan Italia yang kembali menjadi kekuatan utama grid, seperti tradisi panjang di kelas menengah Eropa.

Untuk para penggemar Indonesia, hadirnya duo rider Tanah Air Felix Mulya dan Arai Agaska bersama Yamaha YZF-R7 membawa nuansa emosional tersendiri. Musim 2026 bukan hanya soal memulai era baru, tetapi juga tentang mimpi rider muda Indonesia yang melangkah ke pentas dunia.

Continue Reading

Event

Kawasaki Buka Masa Depan dan Rayakan Warisan Legenda di Japan Mobility Show 2025

Published

on

By

Tokyo – Kawasaki kembali menunjukkan taringnya di dunia roda dua lewat penampilan spektakuler di Japan Mobility Show 2025. Di tengah sorotan lampu pameran, tiga ikon — Z900RS SE, W Series, dan motor hidrogen prototype — menjadi simbol dari dua sisi Kawasaki: warisan legendaris dan masa depan penuh inovasi.

Booth Kawasaki kali ini seolah mengajak pengunjung melintasi waktu. Di satu sisi, ada nostalgia kuat dari W Series, yang memulai perjalanannya sejak model 650-W1 (Dub One) pertama kali meluncur pada tahun 1965. Enam dekade kemudian, mesin klasik ini tetap berdiri tegak sebagai ikon gaya retro dengan karakter mesin besar yang masih memesona hingga kini.
Tahun 2026 nanti akan menjadi momen bersejarah — ulang tahun ke-60 W Series, perayaan atas dedikasi dan semangat yang melahirkan banyak legenda roda dua Kawasaki.

Namun di sisi lain, Kawasaki juga memandang jauh ke depan. Di bawah gemerlap lampu pameran, hadir motor bermesin hidrogen — simbol komitmen pabrikan hijau ini dalam menghadirkan solusi mobilitas masa depan yang ramah lingkungan tanpa mengorbankan performa dan karakter sport khas Kawasaki. Mesin ini menjadi bukti nyata bahwa inovasi dan emisi rendah bisa berjalan berdampingan.

Tak kalah menarik, Z900RS SE terbaru tampil gagah dengan warna Fireball yang ikonik. Sentuhan suspensi Öhlins, rem Brembo, serta fitur elektronik modern seperti IMU-based KCMF, Quick Shifter, dan cruise control menjadikannya bukan sekadar motor retro — tapi paket sempurna antara gaya klasik dan teknologi masa kini.
Bagi penggemar gaya balap vintage, Z900RS CAFE menawarkan pesona Superbike klasik dengan fairing depan khas dan detail autentik seperti logo Kawasaki Heritage serta knalpot bergaya megafon yang menggugah memori masa lalu.

Lebih dari sekadar pameran, kehadiran Kawasaki di JMS 2025 adalah perayaan DNA “Let the Good Times Roll” — semangat yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan dunia roda dua.

Continue Reading

Trending