Connect with us

Moto GP

Jorge Martin Dipastikan Absen di MotoGP Thailand 2025, Aprilia Kehilangan Andalan

Published

on

Juara dunia MotoGP 2024, Jorge Martin, harus menunda debutnya di musim baru setelah mengalami cedera serius saat sesi latihan pada Senin (24/2/2025). Cedera tersebut membuatnya dipastikan absen di seri perdana MotoGP 2025 yang akan digelar di Sirkuit Buriram, Thailand, akhir pekan ini (2/3/2025).

Menurut pernyataan resmi Aprilia, Martin mengalami patah tulang radius, beberapa tulang karpal di tangan kiri, serta tulang kalkaneus yang mengharuskannya menjalani operasi dan proses pemulihan lebih lanjut.

“Jorge Martin mengalami cedera kompleks yang mencakup patah tulang di beberapa bagian tangan dan pergelangan kaki. Tim medis akan mengevaluasi waktu pemulihannya setelah operasi,” demikian pernyataan resmi Aprilia yang dikutip dari Crash, Selasa (25/2/2025).

Sebagai pengganti, Aprilia telah menunjuk Lorenzo Savadori untuk turun balapan di MotoGP Thailand.

Kecelakaan ini menjadi pukulan berat bagi Martin, yang sebelumnya juga sempat mengalami insiden saat menjalani tes pramusim di Sirkuit Sepang, Malaysia. Akibatnya, ia hanya sempat menjalani 90 putaran dengan motor Aprilia RS-GP sepanjang tes musim dingin, sebagian besar dilakukan pada sesi Barcelona pasca-musim November lalu.

Absennya Martin di seri pembuka MotoGP 2025 menjadi catatan sejarah tersendiri. Terakhir kali seorang juara bertahan absen di balapan perdana terjadi pada 1984, ketika Freddie Spencer mengalami cedera serupa. Kini, Martin harus fokus pada pemulihan, sementara Aprilia menghadapi tantangan besar tanpa pebalap andalannya di awal musim.

Moto GP

Era MotoGP 2027 Dimulai: Aero Dipangkas, Pertarungan Murni Pembalap Kembali!

Published

on

By

MotoGP resmi memasuki babak baru. Mulai musim 2027, ajang balap paling bergengsi di dunia ini bersiap meninggalkan era teknologi ekstrem dan kembali mendekatkan esensi balapan yang sesungguhnya: skill pembalap di atas mesin yang lebih “jujur”.

Setelah bertahun-tahun dipenuhi keluhan soal sulitnya menyalip, efek dirty air yang makin parah, hingga dominasi aerodinamika yang membuat balapan terasa steril, Dorna Sports bersama FIM akhirnya mengetuk palu: aero harus dibatasi, biaya harus dikendalikan, dan aksi balap harus dipulihkan.

Keputusan ini menjadi salah satu reformasi terbesar sepanjang sejarah MotoGP modern—dan bagi banyak penggemar, ini adalah kabar yang sudah lama ditunggu.


Aero Disederhanakan: Fairing Dipangkas, Drama Overtake Dibangkitkan

Dalam aturan baru, pabrikan wajib mengurangi desain aero secara signifikan. Fokusnya adalah mengurangi efek “angin kotor” yang selama ini membuat pembalap di belakang kesulitan mendekat untuk menyerang.

Beberapa langkah besar sudah ditetapkan:

  • Lebar upper fairing dipersempit 50 mm
  • Bagian moncong didorong mundur 50 mm

Pemangkasan ini akan memangkas downforce berlebihan yang selama ini membuat motor tak tersentuh saat di trek lurus dan terlalu stabil di tikungan.

Dengan downforce lebih kecil, motor kembali lebih liar—lebih gesit—dan yang terpenting: lebih mudah menempel lawan untuk melakukan overtaking.


Aero Belakang Dibatasi Ketat, Update Hanya Sekali Semusim

Bagian belakang motor juga tidak luput dari perubahan. Semua perangkat aero kini masuk ke dalam regulasi homologasi dan hanya bisa diperbarui satu kali per musim.

Langkah ini bukan hanya menahan eksplorasi aero ekstrem, tetapi juga mencegah biaya R&D meledak seperti beberapa tahun terakhir.


Mesin Turun ke 850 cc & Ride-Height Device Resmi Dimatikan

Selain aero, aturan teknis lain juga ikut dirombak habis:

  • Mesin dikecilkan menjadi 850 cc untuk menurunkan top speed dan mengembalikan sensasi “mengendalikan monster”.
  • Ride-Height Device & Holeshot Device resmi dilarang
    Ini berarti para rider harus kembali mengandalkan kontrol manual saat start dan saat keluar tikungan—keterampilan, bukan perangkat elektronik.

Perubahan ini membawa MotoGP kembali pada DNA aslinya:
motor liar, pembalap agresif, dan aksi penuh adrenalin.


Era Baru yang Ditunggu Penggemar

MotoGP 2027 kini diproyeksikan sebagai era yang lebih adil, lebih aman, dan lebih manusiawi, dengan penggunaan bahan bakar 100% berkelanjutan. Semua pabrikan dipaksa memulai dari titik yang lebih setara, membuka peluang persaingan benar-benar ketat.

Penggemar berharap aturan baru ini melahirkan:

  • Battle wheel-to-wheel yang lebih sering
  • Last-lap fight yang tidak bisa ditebak
  • Pertarungan skill murni seperti era 2000-an

Dan sepertinya, MotoGP benar-benar akan menuju ke sana.

Continue Reading

Electric Vehicle

Yamaha JOG E 2025: Skuter Listrik Ringkas yang Siap Menghidupkan Napas Baru di Jalanan Perkotaan

Published

on

By

Yamaha akhirnya menghidupkan kembali nama legendaris JOG—kali ini dalam wujud yang jauh lebih modern dan ramah lingkungan. Setelah bertahun-tahun menjadi simbol skutik entry-level di Jepang, JOG kini bereinkarnasi sebagai JOG E, sebuah motor listrik mungil yang dirancang khusus untuk masyarakat urban yang membutuhkan mobilitas cepat, simpel, dan bebas polusi.

Lahirnya JOG E bukan hanya keputusan produk, tetapi juga respons Yamaha terhadap regulasi emisi terbaru yang memaksa generasi bensin berhenti diproduksi. Alih-alih mengakhiri perjalanan panjangnya, Yamaha memilih memberi “napas baru” untuk JOG lewat teknologi listrik, sekaligus menunjukkan kesungguhan mereka memasuki masa depan elektrifikasi yang semakin dekat.

Mulai 22 Desember 2025, JOG E siap dipasarkan di Jepang dengan harga 159.500 yen—setara Rp 16–18 jutaan. Harga tersebut membuatnya menjadi salah satu skuter listrik paling terjangkau yang diproduksi pabrikan besar Jepang.


Baterai Swap: Solusi Mobilitas Modern Tanpa Menunggu

Keunggulan terbesar JOG E ada pada dukungan baterai portabel Honda Mobile Power Pack e:—sebuah paket baterai yang bisa dilepas dan langsung ditukar melalui stasiun baterai bersama.

Tak lagi menunggu pengisian daya berjam-jam, pengguna cukup mengambil baterai penuh dari jaringan Gachaco Battery Sharing, yang kini semakin luas di kota-kota besar Jepang. Sistem ini menghadirkan pengalaman berkendara yang jauh lebih praktis, terutama bagi pengguna yang setiap harinya berpacu dengan waktu.

Pendekatan ini membuat JOG E menjadi skuter listrik yang benar-benar siap untuk ritme perkotaan—cepat, efisien, dan minim repot.


Kompak, Lincah, dan Bersahabat bagi Pengendara Pemula

Sebagaimana DNA JOG yang dikenal ringan dan mudah dikendalikan, JOG E tetap mempertahankan karakter itu. Format bodi yang ringkas, tenaga motor listrik yang halus di kecepatan rendah, hingga bobot yang ramah pemula membuatnya sangat mudah diajak bermanuver di kepadatan kota.

Fitur modern seperti lampu LED penuh, panel digital, port USB, dan bagasi fungsional semakin mempertegas bahwa JOG E dirancang untuk penggunaan sehari-hari, bukan sekadar gaya hidup.


Harga Merakyat, Visi Masa Depan yang Besar

Dengan harga mulai Rp 16–18 juta, JOG E bukan hanya terjangkau, tetapi juga membuka pintu bagi masyarakat Jepang untuk beralih ke kendaraan listrik tanpa beban finansial besar. Biaya operasional yang lebih rendah dibanding motor bensin membuatnya semakin menarik dalam jangka panjang.

Peluncuran JOG E menjadi simbol langkah besar Yamaha menuju elektrifikasi yang lebih masif. Kehadiran model terjangkau dengan dukungan ekosistem swap baterai membuat Yamaha berada di jalur strategis untuk memperluas pasar EV—bahkan berpotensi dibawa ke Asia Tenggara di masa depan.

Jika JOG E sukses di Jepang, bukan mustahil nama legendaris ini kembali menyapa jalanan Indonesia—kali ini dalam wujud yang lebih senyap, lebih ramah lingkungan, namun tetap membawa semangat mobilitas sehari-hari yang khas JOG.

Continue Reading

Moto GP

Veda Ega Pratama Tutup Musim JuniorGP 2025 dengan Tekad Baja dan Semangat Menuju Dunia

Published

on

By

Perjalanan Veda Ega Pratama di JuniorGP 2025 berakhir dengan cerita penuh emosi—campuran rasa bangga, pahit, dan harapan besar untuk masa depan. Pembalap muda Astra Honda Racing Team ini berhasil mengamankan posisi 10 besar pada Race 1 di Valencia, tetapi harus menelan pil pahit saat gagal finis pada Race 2.

Di tengah tekanan Sirkuit Ricardo Tormo yang selalu menuntut presisi, Veda tampil stabil pada Race 1. Ia berjuang keras sepanjang 16 lap dan akhirnya menyentuh garis finis di posisi ke-10. Hasil itu menambah perolehan poin penting, sekaligus memastikan dirinya menutup musim di peringkat 10 klasemen akhir—sebuah capaian terbaik AHRT sejak turun di JuniorGP pada 2016.

Race 1 sendiri dimenangkan oleh pembalap Argentina, Marco Morelli, diikuti Brian Uriarte dan Jesus Rios yang mengunci podium.

Namun momen yang paling dramatis terjadi pada Race 2. Veda memulai dengan agresif, langsung menyalip dua pembalap dan menyelesaikan lap pertama di posisi kesembilan—sebuah penampilan yang menunjukkan betapa besar ambisinya menutup musim dengan gemilang.

Sayang, harapan itu terhenti terlalu cepat.

Memasuki lap kedua, Veda terjatuh di Tikungan 1 dan terseret hingga ke area gravel. Insiden tersebut memaksanya mengakhiri balapan lebih cepat pada hari yang seharusnya menjadi momen spesial: ulang tahunnya yang ke-17.

Meski pahit, perjalanan ini menjadi tonggak penting dalam kariernya. Dengan total 70 poin dan konsistensi yang terus meningkat, Veda kini bersiap melangkah ke panggung yang lebih besar.

Musim depan, sang pembalap muda Indonesia itu akan naik kelas ke Kejuaraan Dunia Moto3 2026—memulai babak baru sebagai salah satu talenta masa depan yang paling diperhitungkan dari tanah air.

Sebuah akhir yang emosional, namun sekaligus awal dari petualangan yang jauh lebih besar.

Continue Reading

Trending