Event
Grid World Sportbike 2026 Resmi Dirilis: Era Baru Balap Motor Siap Meledak
Musim perdana World Sportbike 2026 akhirnya menyingkap seluruh lini pembalap dan tim yang akan bertarung. Deru mesin kelas menengah ini bukan sekadar memulai kejuaraan baru—ia membuka babak sejarah yang diyakini menjadi salah satu musim paling ketat dalam lintasan balap produksi massal.
FIM telah menetapkan aturan baru yang membuat kompetisi semakin padat. Jumlah pembalap permanen kini bertambah menjadi 33 rider, plus 1 wildcard. Semua kursi terisi penuh bahkan sebelum musim dimulai, bukti antusiasme luar biasa dari pabrikan dan tim terhadap kategori baru ini.
Dari delapan pabrikan yang mengajukan homologasi, enam di antaranya langsung meluncurkan amunisi sejak musim perdana. Komposisinya memperlihatkan betapa sengitnya peta kekuatan:
- 12 Yamaha
- 8 Kawasaki
- 4 Aprilia
- 4 Triumph
- 3 Suzuki
- 2 Kove
Ini bukan sekadar angka—ini adalah deklarasi perang teknologi dan strategi di lintasan.

Menariknya, performa pabrikan di level nasional seperti BSB dan CIV memberikan gambaran awal betapa dinamisnya musim ini. Suzuki dan Triumph tampil kuat di kejuaraan domestik, namun mayoritas pabrikan lain juga datang dengan rekam jejak yang tak bisa disepelekan.
Hal inilah yang membuat prediksi juara terasa seperti menebak badai di kejauhan: tanda-tandanya ada, tapi hasil akhirnya hanya bisa ditentukan oleh kombinasi kesempurnaan motor, kekuatan tim, dan keteguhan pembalap sepanjang musim.
Dari komposisi rider, hanya satu pembalap berbahasa Jerman yang tampil, yaitu Phillip Tonn dari Kove—sebuah kontras menarik mengingat dominasi pembalap Spanyol dan Italia yang kembali menjadi kekuatan utama grid, seperti tradisi panjang di kelas menengah Eropa.
Untuk para penggemar Indonesia, hadirnya duo rider Tanah Air Felix Mulya dan Arai Agaska bersama Yamaha YZF-R7 membawa nuansa emosional tersendiri. Musim 2026 bukan hanya soal memulai era baru, tetapi juga tentang mimpi rider muda Indonesia yang melangkah ke pentas dunia.
Event
Final Matapanah Cup Race Kediri Siap Digelar, Regulasi 2025 Tetap Jadi Acuan
Meski kalender telah berganti ke tahun 2026, Final Round Matapanah Cup Race yang akan berlangsung di Kediri pada Februari mendatang dipastikan tetap mengusung regulasi musim 2025. Keputusan ini diambil demi menjaga konsistensi teknis sekaligus memberikan kepastian bagi seluruh tim dan pembalap yang akan turun bertarung.

Artinya, seluruh aspek teknis—mulai dari spesifikasi mesin, batas usia pembalap, hingga jenis bahan bakar—masih mengacu penuh pada aturan 2025. Bagi tim dan mekanik, ketelitian dalam menyiapkan setting motor menjadi kunci, agar tak terjadi kesalahan spek yang bisa berujung fatal di lintasan.

Final Matapanah Cup Race sendiri diprediksi menjadi magnet besar bagi insan balap Tanah Air. Atmosfer persaingan tak hanya terasa di kelas-kelas utama, tetapi juga di kategori Pocket Bike, yang justru mencuri perhatian berkat tingginya partisipasi pembalap usia dini.

Keseriusan pembinaan talenta muda ini diperkuat lewat kolaborasi Matapanah Cup Race bersama AFSF Kediri. Panitia menyiapkan bonus apresiasi sebesar Rp250 ribu untuk juara 1 hingga 5 di kelas Pocket Bike usia 7 tahun, serta hadiah juara umum Pocket Bike usia 10 tahun senilai Rp1,5 juta. Sebuah langkah nyata yang menunjukkan komitmen membangun masa depan balap sejak usia belia.
Dengan atmosfer kompetitif, regulasi yang jelas, serta perhatian besar pada pembinaan pembalap muda, Final Matapanah Cup Race Kediri bukan sekadar penutup musim, melainkan panggung penting bagi lahirnya generasi pembalap berikutnya.
📣 INFO ACARA
🏆 MATAPANAH CUP RACE – FINAL ROUND
📆 Sabtu–Minggu, 7–8 Februari 2026
⏰ 09.00 – 16.00 WIB
💰 HTM: Rp30.000
📍 Sirkuit NP GOR Joyoboyo, Kediri
📲 Registrasi: Scan barcode atau klik link di bio
Event
Shammie Zacky Tunjukkan Mental Baja di Paruh Pertama Dakar 2026
Paruh pertama Reli Dakar 2026 menjadi panggung pembuktian bagi pereli Indonesia, Shammie Zacky Baridwan. Menghadapi kerasnya medan gurun dan rute ekstrem, Shammie berhasil menembus 10 besar klasemen sementara Dakar Classic, sebuah pencapaian prestisius di tengah kompetisi kelas dunia.

Hasil ini terasa semakin istimewa mengingat Dakar dikenal sebagai salah satu ajang reli paling brutal di dunia. Shammie, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Land Rover Club Indonesia (LRCI), mampu menunjukkan ketangguhan fisik dan mental dalam menghadapi tantangan lintasan yang menguji batas kemampuan manusia dan mesin.
Saat jeda balapan atau rest day pada Sabtu (10/01), Shammie membagikan pengalamannya setelah melakoni tujuh hari perlombaan. Ia menegaskan bahwa di Dakar, target utama bukan sekadar kecepatan, melainkan bertahan dan mencapai garis finis di setiap etape.
“Balapan ini sangat berat. Setiap hari kami dihadapkan pada jarak tempuh yang sangat panjang. Itu benar-benar menguras energi dan fokus, tapi semua harus ditaklukkan,” ungkap Shammie.
Ratusan kilometer lintasan gurun pasir menjadi ujian nyata. Rasa lelah, kantuk, hingga dehidrasi kerap datang tanpa kompromi. Namun, pengalaman tersebut justru menjadi bagian tak terlupakan dari perjalanan Dakar.

“Untuk menyiasati kelelahan dan dehidrasi, saya selalu membawa camilan dan air minum dalam jumlah kecil agar stamina tetap terjaga,” tambahnya.
Meski harus berjuang ekstra di setiap etape, hasil yang diraih Shammie terbilang sangat solid. Hingga tujuh stage, termasuk Special Stage Prologue, pereli yang tergabung bersama tim Compagnie Saharienne asal Prancis ini mampu mencatatkan performa konsisten di papan atas.
Saat ini, Shammie berada di peringkat kedelapan klasemen overall Dakar Classic dan posisi keempat Kelas H1. Sebuah hasil yang patut diapresiasi, mengingat ia bersaing langsung dengan para pereli legendaris dunia yang telah puluhan kali mencicipi kerasnya Dakar.
“Bersyukur bisa berada di posisi ini. Tidak mudah bersaing dengan pereli-pereli yang sudah sangat berpengalaman di Dakar. Mereka tahu betul cara membaca medan, tapi sejauh ini hasil yang kami raih sudah sangat memuaskan,” tutup Shammie dengan optimisme.
Event
Menaklukkan Gurun, Jejelogy Bawa Mimpi Indonesia di Debut Rally Dakar 2026
Rally Dakar 2026 kembali menjadi ujian tertinggi bagi ketangguhan manusia dan mesin. Di tengah ganasnya gurun Arab Saudi, satu nama dari Indonesia siap mencatat sejarah: Julian Johan, atau yang akrab disapa Jeje—Jejelogy. Kehadirannya bukan sekadar memenuhi daftar peserta, melainkan membawa harapan panjang publik otomotif Tanah Air untuk kembali melihat Merah Putih berjuang hingga garis finis di reli paling ekstrem di dunia.
Lebih dari sekadar balapan, Dakar menjadi panggung pembuktian bagi Jeje. Indonesia tercatat terakhir kali mengirim pereli ke ajang ini lebih dari satu dekade lalu. Dua nama senior, Tinton Soeprapto dan Kasih Anggoro, pernah membuka jalan, namun belum mampu menuntaskan seluruh etape. Kini, Jeje datang dengan misi sederhana namun sarat makna: bertahan, konsisten, dan menyelesaikan setiap kilometer hingga akhir.

Menjelang debutnya pada awal Januari 2026, emosi Jeje bercampur aduk. Gugup, antusias, dan rasa tak percaya menyatu dalam satu momen. Pasalnya, hanya beberapa tahun lalu, tepatnya pada Dakar 2023, ia masih berdiri di sisi lintasan sebagai penonton, menyaksikan langsung betapa brutalnya tantangan gurun pasir. Pengalaman itu justru menjadi titik balik yang membulatkan tekadnya untuk kembali, kali ini sebagai peserta.
“Masih terasa sulit dipercaya akhirnya bisa berdiri di sini sebagai pebalap,” ujar Jeje. Rasa gugup diakuinya tak terhindarkan, namun ia memilih menyingkirkan tekanan. Fokus utamanya bukan soal kecepatan, melainkan ketahanan—menyelesaikan setiap etape dengan aman dan konsisten hingga finis.
Untuk menjawab tantangan Dakar, persiapan matang pun dijalani. Jeje mengasah fisik dan kemampuan navigasi lewat latihan intensif di Maroko, wilayah yang dikenal memiliki karakter medan dan iklim serupa dengan Arab Saudi. Senjata utamanya adalah Toyota Land Cruiser 100 yang telah dimodifikasi secara khusus agar sanggup melahap ribuan kilometer gurun tanpa kompromi.
Target Jeje pun terdengar realistis namun sarat makna: menuntaskan sekitar 8.000 kilometer reli hingga 17 Januari 2026 dalam kondisi fisik prima. Bagi Jeje, Dakar bukan soal podium, melainkan tentang daya tahan, adaptasi, dan keberanian menghadapi batas diri. Jika mampu menyentuh garis finis, namanya bukan hanya tercatat dalam sejarah pribadi, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan Indonesia di panggung reli dunia.
-
Motor Balap12 months agoWawan Wello Resmi Comeback! Siap Tarung di LFN HP969 & Yamaha Cup Race! 🔥
-
Motor2 years ago
Polytron Memperkenalkan 11 Fitur Baru pada Motor Listrik Fox-R
-
Mobil1 year agoPORSCHE RWB GARAPAN AKIRA NAKAI: MODIFIKASI YANG MENJADI INVESTASI SENI MEWAH
-
Motor1 year agoSuzuki DR-Z4 Series 2025: Andalan Baru di Segmen Motor Trail & Supermoto!
-
Motor6 months agoHonda Wave 125 Terbaru Resmi Meluncur di Thailand: Bebek Legendaris, Iritnya Bikin Dompet Senyum Lebar .
-
Motor1 year ago“Yamaha Luncurkan Motor Turing Ganteng di Indonesia! Ini Dia Harganya yang Bikin Melongo!”
-
Event2 years ago
Kia EV9 GT-Line Unjuk Gigi di GIIAS Bandung, Harganya Dekati Rp 2 Miliar OTR
-
Event2 years ago
Prestasi Gemilang: Ebon Raih Gelar Terbaik FFA 2 Tak 402 M Dragbike IDW Racertees Ekitoyama 2024
